 | Mudaiyah | Nov 10, '06 11:35 PM for everyone |
Kupilin kumisku, kulilitkan peluit di pergelangan tangan, dan kulangkahkan kakiku keluar dari lorong. Lapangan rumput ini semakin baik keadaannya dibandingkan saat terakhir aku ke sini. Tribun yang tidak terlalu besar disesaki penonton, yang mungkin kurang banyak memiliki alternatif hiburan. Bendera dan spanduk beraneka warna berkibar-kibar. Rumput hijau, langit biru, udara segar dan sorak sorai penonton yang membahana. Sore yang indah untuk sebuah pertandingan sepakbola. “Heeeei… wasiiiiit ! Awas kooweeeee !!” Hmmm…, aku berusaha menahan senyum. Sudah ada yang memanggil-manggil. Mereka semua pasti sayang padaku. Di dalam lorong tadi kapten kedua kesebelasan sudah sempat kukuliahi sedikit. Kupastikan mereka mengerti, dan bisa menghargaiku. Musim kali ini memang agak berbeda dengan musim-musim sebelumnya. Terbatasnya dana. Jadwal yang berubah-ubah. Tidak terlalu masalah buatku memang. Sebuah pertandingan selalu menjadi saat-saat yang menyenangkan. Betapa pun jeleknya cuaca. Betapa pun kotornya permainan. Penjaga garis sedang memeriksa telapak sepatu pemain. Penonton betul-betul memenuhi seluruh stadion. Pengawas pertandingan berbicara mengenai segerombol penonton yang berusaha menerobos masuk. Mungkin sudah waktunya stadion ini diperbesar kapasitasnya. Sriyono ! Dia di sini ! Di stadion ini ! “Yon !” kusapa dia, “Apa kabar ?” “Burhan… ! Oh, maaf. Siap, letnan !” Ia berdiri tegak dan memberi hormat. “Aah… , sudahlah, aku nggak pakai seragam, kok.” Ia tersenyum, “Kenapa nggak bilang dulu mau ke sini ?” “Aku nggak tau kamu masih di sini.” Ya. Ia masih di sini. Pangkatnya kini pembantu letnan dua. Dua puluh tahun yang lalu kami sama-sama ditempatkan di sini setelah lulus sekolah calon bintara. Saat itu, belum banyak kasus pencurian kayu jati di daerah ini. Tiga tahun bersama, hingga aku dipindahkan ke kota lain. Sangat mungkin catatan karirku inilah yang membuatku dipilih memimpin pertandingan hari ini, tapi hingga saat ini tak ada yang memintaku melakukan apa-apa. “Kamu sendiri di mana sekarang ?” “Kerawang.” “Waah… kamu senang ya, sekarang ? Secapa itu bagaimana, Han ?” “Yaah… sama saja… .” Tak enak rasanya membicarakan hal ini dengan Yono. “Heh, Han, Mudaiyah di sini sekarang.” Apa ? Mudaiyah ? Di sini ? Sekarang ? “Siapa ?” “Jangan bilang kamu lupa Mudaiyah, Han. Itu dia.” Mudaiyah dulu tinggal di dekat posku yang terletak sebelas kilometer sebelah Barat stadion ini. Tidak terlalu ramai, tapi mungkin karena aku cocok dengan alam dan masyarakatnya, tempat itu selalu terasa indah. Dan Mudaiyah menyempurnakannya. Di sanalah dia, mengenakan kaus berwarna merah menyala, seperti warna tim tuan rumah, duduk di tempat duduk pemain cadangan. Wanita di pinggir lapangan memang bukanlah hal yang aneh bagi sepakbola di negara ini. Rambutnya kini dipotong pendek, dan berat badannya tampak bertambah. Tapi Mudaiyah tetap cantik seperti dulu. “Ayo, Pak. Kita mulai.” Para pemain sudah siap. Pertandingan akan dimulai. “Oke, Yon, saya masuk.” Oh, aku harus menanyakannya pada Yono.
“Bagaimana situasi di luar, Yon ?” “Hingga saat ini terkendali, Pak.” Tangan kanannya diangkat ke atas dahi. Sepak bola memang duniaku, namun keamanan adalah hidupku. Para hakim garis telah selesai memeriksa jala gawang dan bendera penjuru. Kedua kapten tim bersalaman, dan undian dengan uang logam dilakukan. Entah siapa yang memenangkan undian itu, mereka toh sudah besar dan mampu mengurus diri mereka sendiri. Iyah, Iyah, Iyah. Kalau saja saat itu aku bisa menikahimu… . Pertama kali kulihat dia, usianya masih delapan belas tahun. Saat itu ia menyuguhkan minuman pada kami yang sedang bertamu. Kulitnya menyilaukan, dan rambutnya yang bergelombang sebahu membakar hatiku. Dadanya yang penuh menusuk jantungku. Aku lumpuh. Untung Sriyono bisa melanjutkan pembicaraan dengan bapaknya. Peluit awal pertandingan kutiup keras-keras. Tim tuan rumah punya kesempatan untuk menyerang. Kelihatannya Mudaiyah bersemangat sekali. Hei, kenapa dia berhenti. Tunggu, ada masalah. Seorang pemain tuan rumah tergeletak di dekat kotak penalti lawan. Sial, aku tak lihat bagaimana kejadiannya. Kutiup peluit. Tendangan bebas. Pemain tamu protes. Kuhampiri penjaga garis yang sejak tadi mengangkat benderanya. “Bagaimana, lihat jelas ?” “Pelanggaran, pak.” Untung saja. Protes pemain tamu tak kugubris. Tendangan bebas ini adalah tendangan bebas. Dan kuberi tanda boleh langsung. Kucuri pandang ke sisi lapangan. Kutarik napas panjang. Kutiup peluit keras-keras. Bola ditendang, tapi kiper menangkapnya. Ia memegang bola dan memain-mainkannya sebentar sambil menunggu teman-temannya mengisi posisi. Tak terlalu lama, bola ditendang jauh ke depan. Melambung tinggi ke udara. Seperti angan-angan kami dulu. “Pak Burhan tunggu di dalam saja, sebentar lagi mungkin bapak pulang.” Waktu itu aku sama sekali tak ingin bertemu bapaknya. “Aku memang pingin ketemu kamu. Nggak apa-apa?” Dia tersenyum. Manis. “Waduuh… lagi berantakan, Pak.” “Aah…, nggak, rapi begini, kok. Kamu yang bereskan ?” Senyumnya tidak hilang, “Bukan, hi… hi…” “Kamu kok udah gede makan coklat ?” “Lho… . Nggak boleh, toh ?” “Ya boleh. Memang kamu suka ?” “Iya… .” Sejak itu aku selalu membawakan coklat untuknya. Kedua tim bermain keras. Kondisi lapangan yang bergelombang dan tidak rata memang membuat pemain sulit bermain cantik. Ia memang Mudaiyah. Senyumnya masih semanis dulu. “Mas Burhan lebih ngganteng kalo nggak pake seragam.” “Masa ? Biasanya cewe’ suka cowo’ pake seragam.” “Aku nggak, tuh… . Aku bukan cewe’ kayak ‘gitu. Aku suka ‘liat Mas Burhan pake kaos.” Permainan makin keras. Penonton pun ikut terpancing. “Mas, katanya mau kawin ? Aku nggak sabar, Mas… .” Ia memelukku dari belakang, menggigiti daun telingaku. Aku terkejut. Hampir saja skuter yang kukendarai terpelanting. “Ya… ya… . Aku belom bisa kawin. Mungkin tahun depan, itu pun komandanku harus setuju.” “Kalau aku hamil, bagaimana ?” Sekali lagi skuter-ku hampir terpelanting. “Hamil ? Kamu hamil ?” “Nggak, kok. Tapi kalau iya, bagaimana ?” “Waduuh… nggak tau. Tapi pokoknya kamu nggak boleh hamil.” “Hi… hi… hi… . Masa hamil nggak boleh ? Kalo udah kawin ?” Aku tersenyum, membayangan aku telah menikah dengannya selalu membuatku bahagia. “Boleh.” Oooo… pelanggaran yang sangat keras. Kali ini penyerang tim tamu tergeletak. Bek tuan rumah harus kuganjar kartu kuning. Tentu saja dia dan teman-temannya protes. Itu sih biasaaa… . Tendangan bebas. Penonton semakin riuh. Bola diambil penyerang lawan. Tendangan keras. Merobek jala gawang tim tuan rumah. Tim tamu bergembira. Terlalu bergembira, mungkin. Penonton mulai menimpuki lapangan. Ritual paduan suara pun mulai terdengar, “Wasit… goblok… ! Wasit… goblok…!” Kupingku sudah cukup tebal. “Mas Burhan harus pergi dari sini ? Kenapa ?” “Belum tahu, Jeng. Tapi kata Yono, minggu lalu ia melihat bapakmu bicara dengan pak komandan di kantor. Mungkin karena itu.” “Mbok ya aku diajak.” “Ya nggak mungkin, Jeng. Tunggulah aku di sini. Aku pasti kembali.” Setahun kemudian, kudengar Mudaiyah dikawinkan oleh orang tuanya. Maka ruang dan waktu yang menyebalkan itu membawa pargi Mudaiyahku. Tapi seorang kawan menolongku, dan memotivasiku untuk bisa melanjutkan pendidikan. Aku menikah dengan seorang gadis di sana, bekerja keras, dan berhasil masuk sekolah calon perwira. Sekarang anakku berusia empat belas tahun. Lho, ini ada apa lagi ? Sial. Kali ini aku betul-betul meleng. Mudaiyah memang begitu menggoda. Untuk dimiliki, disentuh, didengar, dan dipikirkan. Para pemain tuan rumah mengangkat tangan mereka sambil memandangiku. Ada apa ? Kuhampiri lagi penjaga garis. “Saya ketutupan. Penalti ?” “Ya, Pak.” Ia menurunkan bendera yang sejak tadi diangkatnya tinggi-tinggi, “handsball.” Baik. Kutunjuk titik putih, sambil meniup peluit. Sekarang pemain tamu protes. “Lho, kenapa ? Kenapa ?” tanya mereka. “Handsball.” “Hen ? Siapa yang hen ? Dia sendiri yang hen ! Kamu ini, kalo buta jangan jadi wasit !” Mereka semua mengelilingiku. Aku mundur. Ini gawat. Mereka terus menghampiri. Penjaga garis datang membantu. Ia pun kini dikelilingi. Aku berjuang mencapai tempatnya berdiri. Penonton bersorak-sorak gembira. Beberapa benda mendarat di sekitarku. “Siapa yang handsball ?” “Anu, pak, mereka tabrakan. Dua-duanya hen.” Waduh… ini masalah serius. Ini salahku. Apapun yang terjadi, seorang wasit harus selalu memperhatikan bola. “Siapa yang kena bola lebih dulu ?” “Kelihatannya bek-nya, pak. Betul, Pak.” Kelihatannya ? Sialan betul orang ini. Pemain tamu masih mendesakku. Beberapa bahkan mulai berani mendorong-dorong bahuku. Aku harus berkonsultasi dengan siapa ? Pengawas pertandingan adalah satu-satunya orang yang masih bisa kutanya. Aku berlari ke tribun Barat. “Anda ndak meliat sendiri ?” “Posisi saya ketutupan, Pak.” “Mosok wasit ketutupan? Gemana kamu ini? Dari sini, saya yakin penyerang tuan rumah hens lebih dulu. Situasi gawat, tapi itu yang bener. Terserah anda sekarang.” Enak betul dia, sekarang terserah aku. Sambil berjalan ke lapangan kembali, aku melirik ke tempat cadangan tim tuan rumah. Di sana, Mudaiyah, dengan segala keindahannya, menatapku. Ya, saat inilah ia menyadari siapa aku. Matanya melebar, dan mulutnya membuka. Aku tak tahu apakah jantungku berdetak lebih keras atau berhenti. Cantiknya. “Mas Burhan… ,” aku memang tidak mendengar suaranya, tapi aku tahu itulah yang dikatakannya. Tugas lebih dahulu. Kutiup peluit. Kutunjuk arah gawang tim tuan rumah. Tidak ada penalti. Pemain tamu bertepuk tangan. Tapi pemain tuan rumah kini balik berlari mengejarku. Aku mundur. Sialan… . Aku sangat siap berlari bolak-balik di lapangan. Namun berlari sprint menghindari kejaran adalah hal yang berbeda. Napasku sudah tersengal-sengal. Pemain cadangan pun mengejarku. Dan mereka lebih dekat. Aku mencoba menghindari dorongan dan pukulan mereka. Sriyono mencoba menghalau, tapi ia dan anak buahnya lebih sedikit dan tidak berdaya.. Para penonton melompati pagar pembatas. Lapangan kini dipenuhi manusia. Bersamaan dengan itu, pintu besar stadion terbuka, dan massa dari luar stadion serempak masuk. Mereka semua ikut menyerbu lapangan.
Aku mencoba berlari kembali ke arah tribun. Di sana, Mudaiyah memanggil-manggil dengan panik. Akhirnya, sepasukan polisi yang tersisa di sana bisa melindungiku. Toh wajahku lebam dan kepalaku bocor terkena lemparan botol. Mudaiyah merawatku di ruang ganti dengan penuh kesedihan. Ia menangis. Aku tak pernah melihatnya menangis.
 “Jangan menangis. Mau coklat ?” Ia tersenyum. “Kamu nakal, kenapa nggak jadi penalti, toh ?” “Aku nggak konsentrasi tadi, mikirkan kamu.” Air matanya menetes. Ia tersedu sebentar, lalu pergi. Aku tak pernah melihat Mudaiyah lagi setelah itu.
Depok, Friday, March 05, 1999
 | Ternyata wanita itu bisa bikin satu daerah chaos...hahaha... jadi inget Helen of Troy. Pak Burhan itu kamu ya mas? (mas mas jowo)...heheheh |
 | iya mbak Mudaiyah... kok tau sih...? :D |
 | Soalnya Mbak Mudaiyah juga mirip mas... hehehehe... ga nyambung ya?
|
 | hahaha.. masa semua karakter gue mirip gue...? |
 | Mudaiyah (cantik tapi binal), elu banget....hahahahah |
 | empat belas taun masih inget yak? sedap bener :D |
 | hayo bacanya pelan2. Bukan 14 taun, tapi 20. 14 taun itu umur anaknya sekarang :) |
 | "touching, funny, and subtle." -intan paramaditha- (hehehe... kayak blurb new york times' best seller) |
 | menjadi wrote on Nov 15, '06, edited on Nov 15, '06 waks... trims... :) ini adalah satu2nya cerita yang pernah gue kirim ke media, dan... dibalikin aja tuh sama kompas... hehehe... padahal gue ngirimnya udah di-pas2in sama opening liga indonesia... :(
tapi mendingan deh sekarang ada nominator kathulistiwa award bilang gini buat tulisan gue... cihuuy... |
 | Gara2 Mudaiyah niiihhhh.... Makanya mata jangan jelalatan :p |
| |