Sinar bersiap menutup presentasinya. Cahaya jingga matahari Manhattan yang terbenam masuk lewat jendela dan mengkontraskan seluruh tubuhnya di depan layar presentasi yang berwarna hijau tua. Kukunya yang terawat berkilat menekan tuts laptop.
“Perbedaan marjin ini memberikan kita keuntungan maksimal. Dan karena saya sendiri orang Indonesia, saya tahu tempat itu seperti saya mengenali punggung tangan saya sendiri. Saya tahu betul apa yang dibutuhkan untuk berbisnis di sana.” Bahasa Inggrisnya berlogat khas New Yorker.
Dia memberi tanda operator untuk mematikan proyektornya.
“Apa ada pertanyaan?”
“Sebetulnya saya punya satu pertanyaan…,”
“Ya, Robb…?”
Robb berdiri, memberi tanda untuk menyalakan proyektor lagi, kali ini dari laptopnya.
“Biaya investasi anda di Banten rendah sekali. Padahal lihat perbandingan biaya perijinan dan biaya awal antara Indonesia dan Vietnam. Mungkin jangan dari dua negara itu, Vietnam bukan tandingan untuk Indonesia. Cukup bandingkan angka dua daerah itu. Bisa dilihat dari diagram ini, walaupun propinsi Banten sudah menurunkan biaya investasi sepuluh ribu dolar lebih rendah, bedanya masih jauh lebih tinggi dari biaya di propinsi Vung Tao. Yang kedua, di mana nanti letak pabrik kita di Banten? Bisa jadi cukup jauh dari pelabuhan laut di Jakarta. Di Vung Tao, di mana pun dekat laut.” Robb menghadapkan mukanya ke depan Sinar dan mengedipkan matanya dengan genit. “Saya cuma ingin meyakinkan semua itu sudah dihitung, Nona Idrus?”
Sinar membiarkan Robb menyingkir dari hadapannya dan tersenyum kecil. “Saya punya kontak dengan pejabat lokal, yang sudah menunjuk pabrik-pabrik di dekat pelabuhan baru yang sedang dibangun di dekat Serang.” Dia menunjuk letak Serang di peta.
Robb memotong, “Dan berapa banyak kita harus memberi dia uang suap?”
“Tidak perlu. Tidak untuk dia. Tidak perlu untuk saat ini. Dan tentang biaya awal, biaya perijinan memang lebih tinggi tapi kita bisa memperoleh bahan bahan-bahan dengan lebih murah. Kulit sapi dan karet, contohnya, di Indonesia bisa murah sekali, dan kita tidak perlu mengimpor. Semua angka sudah masuk perhitungan saya. Secara umum, marjin keuntungan di Indonesia lebih tinggi.” Asisten Sinar di sisinya mengangguk-angguk.
“Saya punya pertanyaan” Kali ini suara terdengar berat. Sinar mengenali suara itu, dan kelihatan dia agak tegang sekarang.
“Ya, Dustin?”
“Apakah angka akhir kamu diperhitungkan dari harga upah minimum lokal?” Pak Dustin si pemimpin perusahaan itu bertanya sambil membuka kacamatanya. “Saya dengar banyak protes minta menaikkan upah minimum lokal. Kalau hasil perhitungan kamu dihitung dari upah minimum itu, bisa rugi kita kalau dalam dua tahun ke depan terjadi kenaikan.”
“Ya, perhitungan ini berdasarkan upah minimum regional. Tapi si pejabat daerah menjamin tidak akan ada kenaikan upah minimum dalam dua tahun ke depan.”
“Jadi kita akan berbisnis di sana dengan upah minimum regional. Saya nggak yakin dengan itu. Bagaimana perhitungan kamu di Vietnam, Robb? Pakai upah minimum juga?”
Robb juga kelihatan kaget. “Iya, eh maksud saya tidak Pak. Angka ini bukan dari upah minimum regional.” Robb melirik ke asistennya yang mengangguk-angguk. “Kalau kami bisa dapat jaminan yang sama, kami bisa menurunkan biaya kami…” Asistennya kini melotot tanda tidak setuju.
“Well, bukankah ini rapat terakhir? Seharusnya keputusannya hari ini kan?” Dustin seperti menunggu jawaban dari Robb, tapi Robb tidak bereaksi. Lalu ia bertanya dengan suara pelan ke orang-orang di sebelahnya, setelah itu kembali menghadap Robb dan Sinar. “Okay saya nggak bisa menunggu lagi, anak saya punya pertandingan bola basket, dan saya sudah mendengar semuanya. Saya kasih kesempatan buat kalian berdua untuk menghitung lagi dan masukkan angka akhirnya jam delapan hari Senin. Kami akan email keputusannya jam sepuluh, investasi di Indonesia atau Vietnam.” Dustin berdiri.
Pertemuan bubar. Sinar membereskan komputernya. Asistennya berjalan menemui salah seorang yang ada di sisi si pemimpin. Robb berjalan menghampiri Sinar.
“Good luck dear, cat kukumu bagus. Yakin nggak mau keluar hari Sabtu malam?”
“Trims Robb, saya harus menghitung lagi” Sinar tersenyum. “Good luck for you too.”
“Well, good luck for me indeed. And have a nice weekend.”
Mereka berdua tahu bahwa akhir minggu ini tak akan menjadi akhir minggu yang nyaman bagi keduanya.
Asisten Sinar mendekat.
“Roston bilang angka kita sudah bagus. Lebih baik tidak usah diubah lagi.”
“Yakin, Will?” Sinar melihat ke arah Pak Roston. Pak Roston memberi tanda jempol walau tak terlalu mencolok. “Jadi akhir minggu ini kita bisa santai dong.”
“Ya, nikmatilah selagi bisa.” Will melonggarkan dasinya dan duduk di meja.
“Tapi aku yakin Robb akan menurunkan angka dia.” Sinar tercenung lagi.
“Kalau iya semuanya akan tergantung fluktuasi harga bahan di dua daerah itu. Dari presentasi kamu, mustinya kita yang menang. Robb nggak tahu apa-apa soal berbisnis di Asia.”
“Lets cross our fingers then, saya mau pulang dan tidur yang lama.”
“Iya kamu perlu tuh, nikmati ya.”
Cahaya matahari sudah menghilang. Will membereskan barang-barang dan keluar. Sinar memilih untuk berjalan melihat sisa-sisa cahaya matahari terbenam di luar jendela. Lalu lintas New York, dari sisa-sisa terang menjadi gelap. Orang-orang keluar rumah menikmati malam akhir minggu. Sinar pun pulang ke rumahnya.
Cahaya matahari muncul lagi dan menerangi depan rumahnya. Sinar keluar lagi dari pintu rumahnya.
Sinar berjalan-jalan di Union Square, menikmati pasar pagi yang menjual hasil pertanian segar. Saat itulah terdengar suara ribut-ribut, orang berteriak dan anjing menggonggong. Seekor anjing kecil terlihat berlari mengejar seekor tupai di taman. Di belakangnya, seorang ibu mencoba mengejar anjing itu. Secara refleks, Sinar ikut mengejar. Si tupai cepat mencapai pohon dan naik ke atas, meninggalkan si anjing menyalak di bawah, sebelum perhatiannya beralih ke tupai lain yang langsung berlari ke pohon terdekat. Sebelum jauh si anjing berlari, Sinar sudah menangkap anjing itu.
“Ini anjingnya Bu.”
“Untung saja”, Si ibu masih terengah-engah. “Reggie, anak nakal!”
Sinar mengangkat Raggie dan menatap wajahnya.
“Reggie, tupai bukan makanan.”
Si ibu mengambil Reggie dan memasang tali pengikat.
“Terima kasih, untung kamu cepat.”
“Hahaha, saya berlari di kampus dulu.”
“Kampus mana?”
“Ah, saya lari sewaktu saya mengambil undergrad di Columbia.”
“Aah, saya dulu dari NYU.”
“Master saya dari NYU, dari sekolah bisnis.”
“No kidding! Saya lulusan sejarah. Look, boleh saya ajak kamu brunch? Ada tempat enak di East Village, saya akan bertemu teman saya di sana.”
“Well, matahari sedang cerah, udara hangat, saya lapar, sure.”
Mereka berjalan ke arah East Village.
“Saya belum memperkenalkan diri, nama saya Claire.”
“Nama saya Sinar.”
“Sinar, nama dari mana itu?”
“Actually, I’m Indonesian. Sinar means light in Indonesian.”
*
Mereka sedang duduk berdua di sebuah teras rumah makan yang tidak begitu mewah tapi nyaman. Reggie diikat di kaki meja dan mengunyah-ngunyah mainannya. Makanan kedua perempuan itu sudah habis, dan mereka sedang saling bertukar nomor telepon. Seorang pria tampan naik sepeda mendatangi mereka.
“Ah, David, how are you? Ini Sinar. Sinar, Ini teman saya David. Kami sama-sama aktif di klub baca. David ini ke mana-mana naik sepeda.”
David dan Sinar bersalaman, menyebutkan nama mereka.
“Kecuali kalau saya pergi keluar dengan cewek. Claire, kok gak bilang kamu mau ajak teman cantik begini? Kuku kamu indah sekali”
“Ah, jangan dengarkan dia, Sinar. He flirts to everybody including me. David, Sinar ini bekerja di sepatu yang kamu pakai.”
“ No way. Mereka punya kantor di New York?”
“Ya, dan kami sedang mempertimbangkan untuk membuka pabrik di Vietnam atau Indonesia. Kalau keputusannya di Indonesia, saya akan mengurus pabrik itu di Indonesia.”
“Ah, ya, Sinar orang Indonesia.” Claire menambahi.
David duduk.
“Wow wow wow wow.. wait. Kamu mau bilang, sepatu ini dibuat di sweatshop? Saya pikir sepatu ini buatan Amerika.”
Claire juga jadi terlihat tertarik pada topik ini.
“Those were made here. Tapi tiga bulan dari sekarang, seluruh sepatu akan diproduksi di Asia Tenggara. Dan,… ini bukan sweatshop. Kami punya program kesejahteraan karyawan yang bagus.”
“Okay, berapa gaji minimum yang kamu berikan kepada pekerja di sana?” Claire kini ikut terlibat.
“Cukup untuk kebutuhan mereka dan mereka masih bisa menabung.” Sinar mulai merasa terintimidasi.
Claire mencoba terdengar sabar, “Dear Sinar, look. It’s still unfair. Betapa pun baiknya biaya buruh di Indonesia, tetap saja jauh lebih murah dari upah buruh di Amerika.”
“Ya, karena itulah kami memindahkan produksi kami ke sana. Agar biaya produksi lebih murah.”
David kini menyela, “Ya, dan kalian mendapatkan keuntungan berlipat ganda dari penderitaan buruh-buruh di Indonesia. For God sake, buruh-buruh ini tetap tidak mampu membeli sepasang sepatu ini, sementara kalian bisa bersenang-senang di apartemen mewah kalian di Park Avenue.”
“No, saya tinggal di Queens.”
“Ah, ya di Queens. Tapi di Condo bukan? Uuhmm.. di Forest Hills?” Nada pertanyaan David lebih terdengar penasaran daripada sinis.
“David, kalau kamu ingin minta nomornya, mintalah yang sopan.” Kali ini Claire menyela David sambil tersenyum.
Semua tertawa. David bicara lagi.
“Maafkan saya, Sinar. Tapi saya terpukul. Ini merek kegemaran saya, dan saya tidak menyangka mereka terlibat dalam bisnis seperti ini. Maaf… Pak…?”
Tiba-tiba David memanggil seorang tunawisma yang baru saja lewat.
“Berapa ukuran kaki anda? Sembilan? Maukah anda menerima sepatu saya?”
Tentu saja si tunawisma menerimanya, maka berpindahlah sepatu David ke kaki si tunawisma itu. Kini David tidak memakai alas kaki. Sinar sungguh terperanjat melihat itu semua.
“Maaf Sinar, jangan anggap ini personal, ya? Saya betul-betul benci kebijakan seperti itu.”
Claire tersenyum-senyum.
“Maaf saya lupa, David bekerja di lembaga pembela hak asasi manusia.”
“Dan saya, kalau boleh, masih ingin meminta nomor telepon kamu.”
Sinar kelihatan bimbang harus berpikir apa. Dia jelas-jelas masih sangat terkejut dengan adegan pemberian sepatu David tadi. Alisnya terangkat. Mulutnya ternganga. Dagunya bergerak-gerak, tapi tidak mengeluarkan suara apa-apa. Claire mencoba menyelamatkan suasana.
“David, I think you’re forgetting something. Saya minta kamu membawa buku yang kamu pinjam kan? Kamu tidak membawa apa-apa sekarang. Bisa tolong ambilkan di rumah kamu?”
David mengerti, dia berdiri.
“Ya akan saya ambilkan. Sinar, saya mau minta ma…”
“Shut up, just go…!” Claire memotong lagi.
David pun betul-betul pergi.
“Sinar, kamu mau pencuci mulut?”
“Claire, saya betul-betul kenyang.”
“Okay then, mari kita pulang.” Claire memberi tanda kepada pelayan untuk memberikan bon tagihan. “Apakah kamu besok ada waktu? Besok saya berulang tahun, dan saya kepingin mentraktir kamu makan.”
“Claire, besok juga ulang tahun saya…”
Keduanya tertawa.
“Itulah kenapa kita begitu cocok satu sama lain.”
“This is amazing. Ya, tapi malamnya saya harus menemui keluarga saya, jadi mari bertemu siang.”
“Ya, saya juga ada acara pada malam harinya.”
“Ya, mari bertemu besok.”
Si pelayan datang, Sinar ingin membayar tapi Claire membayar lebih dulu. Mereka berpelukan lalu berpisah. Wajah Sinar masih terlihat terguncang.
*
Malam itu, di rumah, Sinar kelihatan bingung. Ia mengangkat gagang telepon, dan menekan tutsnya. Sambil menelepon, Sinar menyalakan tivi, mengganti-ganti saluran tivi, menyalakan laser disk, mematikan laser disk, menyalakan lampu baca, menyalakan musik, mematikan musik.
“Halo, ini Sinar. Ya ayah. … Iya terima kasih, di sana saya sudah ulang tahun, di sini baru tiga jam lagi. Baik, semua baik. … Bagaimana sehari-hari di sana? … susah ya? … belum hujan-hujan? … Kemarau kekeringan. Musim hujan, kebanjiran. … Roni sudah dapet kerja? Hhh… mau dikasih makan apa dong anak isterinya? … Gak bisa ditawarin kerjaan di bengkel dulu? … Iya kerja sementara bisa kan? Nambal ban? Iya tau sih, … kirain lulusan politeknik gampang dapet kerja. … iya memang susah kalau ekonominya begini terus… . Oh ya, saya baca semua itu. Kan ada berita-berita Indonesia di internet. … Iya Ayah. Hahaha… dulu ayah yang bilang dia pilihan terbaik? Sekarang ayah nyesel milih dia? … hahaha… tapi memang tidak jelas arahnya. … Oh iya, kebijakan itu juga. Bagaimana pertimbangannya saya juga gak ngerti. … yaaa… ya ini. Kemaren baru kelar presentasinya. Tapi keputusan baru hari senin. Keliatannya sih kansnya bagus, orang di kantor suka angka-angkanya. … Saingannya Vietnam. … Iya. Kalau tembus seribu lima ratus orang dapet kerja. Iya. … iya ayah juga baik-baik, jangan lupa minum obatnya. Ya ya… mana ibu?... Bu? Baik. Terima kasih, umur saya dua puluh delapan. Ibu gemana? … semua baik-baik? … Iya.. (tersenyum) iyaa… . Halah… gak usah dicari, nanti juga dateng sendiri, Bu… iya, masih asik kerja… gimana dong? Iya, nanti dikasih tau kalau ada. Iya iya Bu… masak tiap aku telepon ibu ngomong itu terus? … Iya Bu, iya. … makanya doain aku dapet nih, biar kerjanya deket dari Jakarta. … kalau gak dapet? Ya tetep kerja di sini. … Hahaha… … iya Bu… iya. …Iya iya iya. Ya sudah, ibu berangkat sana. … Salam sama Uda Rustam ya? … Daagh..
Sinar mematikan lampu, lalu membaringkan dirinya di sofa.
*
Sinar dan Claire bersama Reggie keluar dari restoran, lalu berjalan ke taman.
“Saya tidak bisa menyalahkan David.” Claire membuat kalimatnya tidak terdengar argumentatif, “Saya sendiri tidak mau membeli barang yang dibuat di sweatshops. Tidak semua orang, tapi setidaknya cukup banyak orang seperti saya di New York City.”
“Saya tahu, saya mengerti. Saya juga tidak mau membeli barang-barang yang diproduksi di sweatshops. Tapi, this is what I’m saying: This is not a sweatshop.”
“Bagaimana itu bukan sweatshop kalau upah buruh ditekan?”
“Ini bukan seperti yang kamu bayangkan. Kalau saya mendengar kata sweatshop, saya membayangkan buruh diperas, dipaksa.”
“Saya tahu, tapi upah mereka tetap rendah sekali dibandingkan harga sepatu itu. Ironis bukan, dalam sehari mereka membuat puluhan atau ratusan pasang sepatu, tapi dalam sebulan mereka belum tentu bisa membeli sepasang sepatu yang mereka bikin.”
“Standar ekonominya berbeda sekali. Kamu harus melihatnya dari perspektif mereka, tanpa order ini, mereka tidak bisa hidup.”
“Ya, tapi lihatlah gajimu di sini. Tegakah kamu berpikir selisih antara gaji kamu dengan gaji mereka? Saya tidak menghakimi kamu, Sinar. Saya cuma menjelaskan kenapa saya tidak bisa membeli produk perusahaan kamu.”
“Sudah pernah belum kamu ke Indonesia, dan melihat langsung kesulitan hidup orang-orang di sana? Mereka memang tidak perlu sepatu seperti itu. Tapi pekerjaan ini membuat mereka bisa memberi makan anak-anak mereka. Saya harus berbuat sesuatu untuk mereka.”
“Sinar, saya ingin sekali berbuat sesuatu untuk mereka, kalau saja uang yang saya keluarkan tidak lebih banyak dinikmati oleh orang-orang yang tidak ikut berkeringat.”
“Dunia memang tidak pernah adil, Claire, selalu ada yang berkeringat dan ada yang tidak. Kalau semua orang seperti kamu, maka buruh-buruh itu tidak punya kesempatan untuk hidup.”
Keduanya terdiam. Suasana hening sejenak.
“Ngomong-ngomong, kamu tidak marah beneran kan kepada David? Dia masih menanyakanmu pagi ini.”
“Hahaha… tidak. Tapi ada kemungkinan saya akan dipindah mengawasi pabrik di Indonesia. Saya tidak mau memulai sesuatu yang harus segera diakhiri.”
“Iya, saya mengerti.” Claire tersenyum. “Kita sudah sampai. Sampai jumpa dan selamat ulang tahun lagi… Give me a call from time to time” Mereka berpelukan.
“Selamat ulang tahun juga, Claire, you call me too, okay…?”
Mereka pun berjalan terpisah. Sinar masuk ke stasiun kereta bawah tanah. Di dalam kereta, ia membuka laptopnya, berpikir. Ujung kukunya menekan tuts laptop, menambahkan sedikit harga upah buruh.
Claire melewati toko sepatu merek perusahaan Sinar. Dia menengok ke etalase, tersenyum, menggeleng-gelengkan kepala, lalu berjalan lagi. Beberapa langkah lalu berhenti, membalikkan badan, lalu masuk ke dalam toko. Tak lama ia keluar dengan sepasang sepatu baru. Ia tersenyum puas.
*
Besok harinya, jam hampir menunjukkan pukul sepuluh. Will sang asisten mendatangi Sinar sambil membawa kertas.
“Apa ini? Kenapa angkanya jadi segini?”
“Tenang Will, ingat pertanyaan Dustin hari Jumat? Dia bilang sungguh berbahaya memasang angka sesuai upah minimum. Maka aku naikkan sedikit. Hanya tiga puluh sen per hari.”
“Robb menurunkan biaya upah buruh di Vietnam. Aku tidak yakin ini berhasil.”
Will kembali ke mejanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sinar kembali bekerja di komputernya. Wajahnya pun cemas.
Tiba-tiba di layar komputer muncul tanda email baru. Ia menekan tanda itu lalu membaca dengan serius. Ia lalu memejamkan mata dan bersandar ke kursinya.
Gagang telepon diangkat. Ia menekan tuts-nya dengan kukunya yang berkilat.
“Claire, … “ diam sejenak, “Bisakah kamu memberikan nomorku kepada David? Saya masih akan tinggal di New York beberapa lama lagi.”
Ayah-ibu yang merindu. Seribu lima ratus buruh punya pekerjaan. Semua itu tak boleh lagi dia bayangkan sekarang.
Queens. New York, 20 November 2006
for sandra