Blog Entryide film soal pak jendral besarFeb 3, '08 2:35 AM
for everyone

Film Ideas based on Problems created by the Great General's Policies


*Versi Bahasa Indonesia ada di bawah, powered by IndopreterCD*

Hey, it’s been a week since the great general passed away, I think the mourning time for common people is over, and we can put down the flag after being flown half pole for seven days. Whether he gets into heaven or hell, let’s leave it to the afterlife judges to decide. I also believe that it is a personal preference to give him forgiveness and take him back to our heart as human being (even though I don’t know how to see satan as human). We may forgive, but should we forget his mistakes and let those things happening again? No way Jose. In fact, it is our duty to make sure that what we suffered in the past won’t happen again sometime in the future.

 

One way of doing that, is to refresh people memory and update the newer generation about what happened in the past. While many books, articles and academic paper already told many stories, our lack of reading habit might still make us a forgetful nation. So, in line with a challenge from ismet here, I just wonder if we can involve cinema in doing such duties.

 

I wonder which stories are the most ruthless to tell the next generation. Please pick one or two (or, okay, three) that you think is the most important, and tell why. And hey, since I imagine these to be released in featured movies, you can even put aesthetic, dramatic or commercial consideration and maybe you can propose a plot. It’ll be fun.

 

And yes, please propose important yet unlisted topics. Not ones defending him though, for that I’ll be happy to read it in your own blog.

 

Ready?

Lets start it with the “light” topics.

 

  1. Corruption

a.       “National car” made in Korea (slapstick comedy)

b.      Papua gold rush (action-adventure)

c.       Rainforest versus acid rain (sci-fi)

d.      Pertamina and oil import policy (slapstick comedy)

e.       Clove monopoly (epic drama)

f.        Military involvement in economy distribution (action - hey, this one is still happening).

g.       Big size (but low wages) bureaucracy to win election (comedy)

h.   Calling himself father of development with borrowed money from abroad and let the next generation trapped in economic crisis when these high interest loans reached due dates (satirical comedy).

 

  1. Discourse control

a.       Si Unyil and other children brainwashing program (comedy).

b.      Banned books and authors (drama).

c.       Banned drama groups and shows (drama).

d.      Banned musicians (drama).

e.       Banned and killed poets (drama).

f.        Banned and killed journalist (drama).

g.       Rewriting history text book on struggle for Indonesian independence (children comedy).

h.   (NEW) SARA (Ethnicity, Religion, Race, and Cultural Group), the term that had been used to avoid disscussion on harmonic relation between different groups in the society (this can be epic war tragedy).

 

  1. Military approach in assessing social and political affairs.

a.       Military involvement in all levels of local government (satirical comedy).

b.      Military involvement in family planning (satirical comedy).

c.       Military involvement in transmigration program (satirical comedy).

d.      Post G30SPKI massacre (drama-thriller).

e.       Tanjung Priok massacre (drama-thriller).

f.        Aceh massacre (drama-thriller).

g.       East Timor massacre (drama-thriller).

h.       Pro-democratic student shootings (one documentary done, but with heavy censor)

i.         Politic-related missing persons (drama-thriller)

j.        Killed labour activist (drama - yeah, I know it’s done, but is it good enough?).


Bahasa Indonesia by indopreterCD – I did some editing to make sure it’s understandable.

 

Hey,

ini adalah satu minggu sejak jenderal besar wafat, saya pikir waktu berkabung untuk rakyat biasa sudah selesai, dan kita dapat menurunkan bendera setelah mengibarkannya setengah tiang selama tujuh hari. Apakah dia masuk sorga atau neraka, biarkan pengadilan alam baka yang memutuskan. Saya juga yakin bahwa untuk memaafkannya adalah satu pilihan pribadi (sungguhpun saya tidak tahu bagaimana caranya melihat setan seperti manusia). Kita mungkin memaafkan, namun haruskah kita lupakan kesalahannya dan membiarkan hal-hal itu terjadi lagi? Sama sekali tidak. Adalah tugas kita untuk memastikan apa yang kita derita di masa lalu tidak akan terjadi lagi di masa mendatang. 

 

Satu cara melakukan tersebut, adalah untuk menyegarkan ingatan orang-orang dan memperbaharui pengetahuan generasi baru sekitar apa terjadi di masa lalu. Sementara beberapa buku, artikel dan makalah ilmiah telah menceritakan, kurangnya kebiasaan membaca masih membuat kita satu bangsa pelupa. Sehingga, sejalan dengan tantangan dari ismet di sini, saya penasaran kalau kita dapat melibatkan bioskop di dalam melakukan tugas ini. 

 

Saya penasaran cerita mana yang paling gawat untuk diceritakan kepada generasi berikutnya. Harap memungut satu atau dua (atau, okelah, tiga) yang dalam pikiran kamu paling penting, dan katakan kenapa. Dan karena saya membayangkan ini untuk dirilis di bioskop, kamu dapat bahkan meletakkan bahan pertimbangan estetika, dramatis atau komersial dan mungkin kamu dapat mengajukan plot atau daftar pemeran. Asik kok.

 

Oh iya, silahkan kirim usulan cerita yang menurut kamu penting tapi belum ditulis di sini. Tapi bukan yang membela dia ya, kalau itu saya akan senang hati membacanya di blog kamu sendiri.

 

Siap?

Biarkan awal ini dengan topik “enteng”.

 

  1. Korupsi

a.       “Mobil nasional” buatan Korea (komedi slapstik)

b.      Perebutan ladang emas Papua (laga petualangan)

c.       Hutan-hujan versus hujan asam (fiksi ilmu pengetahuan)

d.      Pertamina dan kebijakan impor minyak (komedi slapstik)

e.   Monopoli Cengkeh (drama epik) 

f.        Keterlibatan militer di distribusi ekonomi (laga - hey, satu ini masih terjadi).

g.       Birokrasi ukuran besar (cuma gaji rendah) untuk memenangi pemilu (komedi)

h.   Pinjam uang dari luar negeri untuk membangun, menyebut diri bapak pembangunan, lalu membiarkan generasi berikut terjebak dalam krisis ekonomi ketika bunga yang tinggi itu jatuh tempo (komedi satir).

 

  1. Kontrol wacana

a.       Si unyil dan program lain yang mencuci otak anak-anak (komedi).

b.      Buku terlarang dan pengarang (drama).

c.       Kelompok dan pertunjukan drama terlarang (drama).

d.      Ahli musik terlarang (drama).

e.       Melarang dan membunuh penyair (drama).

f.        Melarang dan membunuh jurnalis (drama).

g.       Menulis ulang buku teks sejarah perang kemerdekaan (komedi anak-anak). 

h.   (BARU) SARA (Suku, Agama Ras,Antar Golongan), jargon yang dipakai untuk menghindari diskusi bagi hubungan harmonis antara kelompok2 yang berbeda dalam masyarakat (ini bisa jadi epik tragedi perang).

 

  1. Pendekatan militer dalam urusan sosial politik.

a.       Keterlibatan militer pada semua tingkat pemda (komedi satir).

b.      Keterlibatan militer di keluarga berrencana (komedi satir).

c.       Keterlibatan militer di program transmigrasi (komedi satir).

d.      Tempatkan pembantaian G30SPKI (drama).

e.       Pembantaian Tanjung Priok (drama).

f.        Pembantaian Aceh (drama).

g.       Pembantaian Timur Timor (drama).

h.       Penembakan mahasiswa pro demokrasi (satu sudah selesai dalam bentuk dokumenter, cuma dengan sensor berat)

i.      Orang hilang berhubungan politik (drama) 

j.        Aktivis buruh terbunuh (drama - yah, saya tahu ini sudah ada, cuma apakah ada yang nonton?).



40 CommentsChronological   Reverse   Threaded
purplerebel wrote on Feb 3
tito, lo males amat siiih??? masa membiarkan CD menerjemahkan tulisan lo!!! ancuuuur berat :D
kalo disuruh pilh topik2nya, jujura aja gw berat. karena gw pengennya semuanya dicakup. knapa gak bikin documentary yang isinya mencaplok semua??? *maaf serakah*
menjadi wrote on Feb 3, edited on Feb 3
hehehe... oke oke gue terjemahin beneran deh... tuh udah. kalo gitu pertanyaannya gue ganti: Kalo waktu kita untuk bikin semua cerita ini 10 tahun, yang mana yang mau lo bikin duluan? Atau yang mana yang paling bikin lo semangat terlibat?
tkmaia wrote on Feb 3
i like unyil
menjadi wrote on Feb 3
i like Unyil too, Tik, secara kagak ada saingannya jaman itu. Pas gue jadi produsernya waktu tayang di RCTI tahun 2002, Si Unyil kalah KO sama doraemon, Digimon, dll. jaman orba, saking kita gak ada pilihan lain, sukses lah otak kita dicuci soal KB, transmigrasi, abri masuk desa, dll. Yang paling gawat adalah usaha serial itu untuk menumpulkan kreativitas dan menyeragamkan anak-anak (liat bukunya Phillip Kitley, Television Nation & Culture In Indonesia, 2000). Makanya kita tumbuh jadi orang2 gak kreatif begini... hehehe...
tkmaia wrote on Feb 3
brainwashed? me? I DONT THINK SO.. ;p
miranyala wrote on Feb 3
soal jual beli senjata nya dia gimana to? ga termasuk ya? emang terjadi sebelom dia jadi presiden sih...hehe....
gw pilih yang Papua gold rush (action-adventure) --- soalnya dari sini semuanya berawal...termasuk pengesahan UU PMA yang menguntungkan dia baget+kroni2nya...huh.
thetruthaboutjakarta wrote on Feb 3
Jose samasekali tidak! this indopreterCD is fukkin great! whr can i get one? seriously, tits. i really do wanna get one, out of the original translation how much did u edit?
thetruthaboutjakarta wrote on Feb 3
yaaah tits, kok lu edit lagi siih versi indopreternyaaa, gue minta dong yg asli tadi, lucu!
stelivena wrote on Feb 3
ABRI masuk desa dibikin genre film noir aja
madwomanintheattic wrote on Feb 3
i go for all the massacre themes visualized in the most vivid & violent ways. how about sexing suharto? oooh i forgot, it's being written :-) but certainly not filmed yet.
ekkyij wrote on Feb 3
tanjung priok mantap tuh, genrenya black comedy macam chaos-nya yousof chehine.
hatibunga wrote on Feb 3
semua dibikin, tapi yang duluan dibikin gue milih no. 1.B.!
seru tuh! :)
gloriboks wrote on Feb 3
mau semua tapi yang mobil nasional langsung kebayangnya kaleng sarden di-recycled jadi mobil yang dipake semua orang indonesia,"belum pernah kan liat mobil kayak gini?"
galatio wrote on Feb 3
yahh serius lo, gue penonton setia unyil. pantesannnn :(
menjadi wrote on Feb 3
yaaah tits, kok lu edit lagi siih versi indopreternyaaa, gue minta dong yg asli tadi, lucu!
mik, gue edit lumayan banyak secara semua DM jadi MD kebalik-balik. Gue pikir gak akan ada deh program yang bisa ngebalik logika inggris jadi indonesia. ntar gue bikin postingan sendiri deh tentang si indopreter.
menjadi wrote on Feb 3, edited on Feb 3
soal jual beli senjata nya dia gimana to? ga termasuk ya? emang terjadi sebelom dia jadi presiden sih...hehe....
gw pilih yang Papua gold rush (action-adventure) --- soalnya dari sini semuanya berawal...termasuk pengesahan UU PMA yang menguntungkan dia baget+kroni2nya...huh.
yoi, si freeport itu kan masuk papua untuk eksplorasi ketika masih dikuasai belanda, makanya mereka mendukung indonesia dalam konflik irian barat, soalnya bagi hasilnya lebih menguntungkan, cuma harus bayar pajak sedikit, beberapa politisi, rakyat setempat gak dibagi, sisanya semua buat mereka. Pas mereka mau mulai Sukarno jatuh. Some people have such a right timing, hehehe...
menjadi wrote on Feb 3
ABRI masuk desa dibikin genre film noir aja
asik juga, kalo gitu desanya di pegunungan biar ada alesan suasana yang gloomy berkabut dan semua orang pake mantel2. Ceritanya kita bikin standar film noir aja, ada desa aman permai lalu ada program masuk desa, trus pak lurah terbunuh dan petugas carik kelurahan yang menyelidiki pembunuhan itu harus berebut perempuan dengan salah satu perwira pasukan yang dia curigai.
menjadi wrote on Feb 3
i go for all the massacre themes visualized in the most vivid & violent ways. how about sexing suharto? oooh i forgot, it's being written :-) but certainly not filmed yet.
kayaknya gue baru memberi lo inspirasi baru buat buku lo yang belum selesai2 itu ya?
menjadi wrote on Feb 3
ekkyij said
tanjung priok mantap tuh, genrenya black comedy macam chaos-nya yousof chehine.
pelaku utama terlibat aksi tanjung prioknya gak? atau dia orang luar dan jadi mata ketiga?
menjadi wrote on Feb 4
semua dibikin, tapi yang duluan dibikin gue milih no. 1.B.!
seru tuh! :)
hehehe... udah dua orang nih vote yang ini. gue ngebayangin ceritanya tentang salah satu petugas eksplorasi bule yang lagi foto udara dan pesawatnya jatoh, dan dia ditolong suku amungme. Dia jadi konflik batin dan akhirnya berbalik berjuang warga setempat biar dapet jatah lebih banyak.
menjadi wrote on Feb 4
mau semua tapi yang mobil nasional langsung kebayangnya kaleng sarden di-recycled jadi mobil yang dipake semua orang indonesia,"belum pernah kan liat mobil kayak gini?"
hehehehe...
ini memang gue bayangin slapstick, bisa gak ya? mungkin harus rada2 surealis kayak kartun gitu ya.
menjadi wrote on Feb 4
galatio said
yahh serius lo, gue penonton setia unyil. pantesannnn :(
gue juga penonton setia unyil mar. hom pim pah, unyil kucing...! usro anjing...!!
galatio wrote on Feb 4
kalo si huma gimana? itu gak brain washing kan
robymuhamad wrote on Feb 4
gw nggak percaya brainwashing; kalo semuanya di brain washed, mana mungkin suharto jatoh.
robymuhamad wrote on Feb 4, edited on Feb 4
usul:

menurut gw yg menarik bukan sekedar menunjukkan itu semua salah, tapi juga menunjukkan bagaimana suharto melihat itu semua sebagai sesuatu yang baik; sesuai dengan filosofi jawa. dlm filosofi jawa ends justify means e.g., membunuh adik sendiri supaya jadi raja bisa menjadi baik jika si raja baru membawa kemakmuran.

di filosofi ini tidak dikenal konsep accountibility; karena accountibility disini bersifat transenden: raja accountable karena dia memiliki kekuatan supernatural; jika dia salah maka kekuatan super naturalnya hilang dan dia berhenti jadi raja. selama dia raja maka selama itu pula dia accountable.

ini penting untuk memberikan pelajaran buat orang indonesia: melakukan sesuatu dengan niat baik tidak cukup.

juga maksud gw melihat dari kaca mata suharto itu bukan sekedar dari ego dia bahwa tindakan dia menguntungkan dia pribadi. tapi suharto juga percaya bahwa tindakan dia menguntungkan rakyat indonesia. disini ada loncatan kepercayaan: apa yg baik bagi diri sendiri juga pasti baik bagi orang lain. tentu ini salah.

ini penting dieskpos karena gw lihat kebanyakan orang indonesia adalah suharto, dan suharto adalah orang indonesia. jika suharto lahir dan jadi presiden di tanzania, belum tentu dia jadi diktaktor. pesannya: suharto bisa jadi suharto karena ada struktur sosial dan norma budaya yang mendukung suharto jadi suharto.

jadinya filmnya bukan sekedar kritik individu suharto; tapi jadi refleksi diri kita semua: apa artinya jadi orang indonesia.


shaisha08 wrote on Feb 4, edited on Feb 4
gwe tertarik dengan topik kontrol media, apalagi yang "mengulang teks buku2 sejarah". buku Tuanku Rao hasil karangan Mangaraja Onggang sempet ditarik dari edaran2 karna struktur penyampaian sejarahnya... it will be interesting to know more indepth about it.... =)
thetruthaboutjakarta wrote on Feb 4
gue sih lebih tertarik dgn family saga klan suharto mama tien percent meninggal ketembak tomi (atau bambang?) yg lagi duel, baby halimah melabrak mayangsari, anaknya prabowo yg cong digampar bapaknya kenapa kurang laki, jendral hartono memberikan tutut an offer she cdnt refuse etc etc
adiputra wrote on Feb 4
gw nggak percaya brainwashing
upaya brainwashing kali...beberapa berhasil, beberapa nggak...belum tentu berhasil semua kan...tapi kan memang kebaca polanya...dan selama dia pegang semua informasi yang ada, brainwash ala pelencengan sejarah kan gampang...bikin film janur kuning, bikin film g30spki...image building ujung-ujungnya hahaha
menjadi wrote on Feb 5
galatio said
kalo si huma gimana? itu gak brain washing kan
nggak mar, huma lebih ke proyek percobaan yang gagal, hehehe... .
menjadi wrote on Feb 5
gw nggak percaya brainwashing; kalo semuanya di brain washed, mana mungkin suharto jatoh.
awalnya memang bukan, proyek ini diawali sama pak suyadi yang jadi pak raden, aslinya sangat idealis, kayak mengenang masa kanak2nya pak suyadi, tapi proposalnya lalu disambar brigjen G. Dwipayana, eks ajudan si bapak yang sudah memegang PPFN, dan semua ini bertepatan dengan munculnya P4. Lengkaplah sudah nasib serial itu. Kita bisa sebut brainwash atau apa pun sih, tapi memang menurut gue hasil brainwash itu luntur gara2 TVRI nggak jadi stasiun tunggal lagi sejak kemunculan TV2 swasta.
menjadi wrote on Feb 5
dlm filosofi jawa ends justify means e.g., membunuh adik sendiri supaya jadi raja bisa menjadi baik jika si raja baru membawa kemakmuran.
mungkin salahnya dia di sini, dia lupa bahwa dia memimpin republik dan bukan kerajaan, hehehe... Tapi usulan lo menarik, film yang bagus tentunya bisa melihat kedalaman kayak gini; dan kritik kepada seorang tokoh di masa lalu seharusnya bisa menjadi kritik kepada kita semua.

Anyway, bagian ketika lo bilang niatnya baik, kayaknya cuma berlaku hingga menjelang akhir tahun 70'an deh, menjelang 80'an ke atas sih gue ngeliatnya dia udah lebih ke serakah dan gak mau melepas kekuasaannya.
menjadi wrote on Feb 5
gwe tertarik dengan topik kontrol media, apalagi yang "mengulang teks buku2 sejarah". buku Tuanku Rao hasil karangan Mangaraja Onggang sempet ditarik dari edaran2 karna struktur penyampaian sejarahnya... it will be interesting to know more indepth about it.... =)
aish,
sejarah kalau udah ada dalam sistem politik (misalnya buku pelajaran anak2) udah pasti berpihak pada siapa yang berkuasa. Eh, atau gue ralat ya, sejarah, secara yang menghimpun dan menulis manusia, pasti akhirnya memihak, period... :( Eh lagi... atau nggak juga ya?
menjadi wrote on Feb 5
gue sih lebih tertarik dgn family saga klan suharto mama tien percent meninggal ketembak tomi (atau bambang?) yg lagi duel, baby halimah melabrak mayangsari, anaknya prabowo yg cong digampar bapaknya kenapa kurang laki, jendral hartono memberikan tutut an offer she cdnt refuse etc etc
wah, sisi ini gak kepegang sama gue. Lo aja nih yang bikin Mik. Pasti keren abis.
menjadi wrote on Feb 5, edited on Feb 5
upaya brainwashing kali...beberapa berhasil, beberapa nggak...belum tentu berhasil semua kan...tapi kan memang kebaca polanya...dan selama dia pegang semua informasi yang ada, brainwash ala pelencengan sejarah kan gampang...bikin film janur kuning, bikin film g30spki...image building ujung-ujungnya hahaha
gue sih merasa cukup tercuci otaknya saat itu, awal sampe mid 80an, kayaknya orang2 lain juga. Gue inget saat itu ada yang bikin lomba lawak, di panggung bukan di TV, trus jurinya ngeluh karena semua kelompok yang jadi peserta berusaha menyampaikan pesan pemerintah, hahahaha... Ya iyalah, abis semua kelompok lawak mapan di TV harus begitu... Eh, inget acara Ria Jenaka?
robymuhamad wrote on Feb 5
menjadi said
Anyway, bagian ketika lo bilang niatnya baik, kayaknya cuma berlaku hingga menjelang akhir tahun 70'an deh, menjelang 80'an ke atas sih gue ngeliatnya dia udah lebih ke serakah dan gak mau melepas kekuasaannya.
mungkin lu bener. tapi buat gw agak garing kalo ceritanya hanya bilang ni orang serakah dan jahat. terlalu simplistik. lagian kalo emang dia serakah dan nggak mau melepas kekuasaan, dengan mudah dia bisa perintahkan untuk menembak semua mahasiswa di gedung dpr thn 1998.

poin gw bukan untuk meminimalkan kesalahan suharto, tapi untuk melihat kasus suharto ini dalam konteks yang lebih besar; bukan hanya masalah individu, tapi juga masalah sosial dan budaya.

segala kejahatan suharto ini bukan terjadi di sebuah ruang vakum. tapi terjadi didalam sebuah lilitan struktur sosial budaya yang kompleks dan bisa jadi ikut memungkinkan kejahatan sebesar itu terjadi.


robymuhamad wrote on Feb 5
sorry tambahan lagi.

masalah indonesia itu jauh lebih dalam daripada sekedar suharto. contohnya:

- adanya usul suharto jadi pahlawan.
- masih berkuasanya orang yang sangat mungkin punya tangan penuh darah; malah jadi calon presiden.
- megawati yang pernah jadi presiden pun nggak berkuasa mentutaskan kasus 27 juli.

suharto udah nggak ada, tapi banyak masalah yg nggak bisa diselesaikan. buat gw ini tandanya masalah bukan hanya pada individu suharto tapi masalah orang indonesia secara umum.

dalam bayangan gw, mungkin filmnya seperti constant gardener. rentetan peristiwa yang saring berhubungan (convoluted): ada serangkaian orang bicara di telepon yang berujung matinya seseorang meskipun tidak ada perintah eksplisit untuk membunuh,
menjadi wrote on Feb 9, edited on Feb 9
(duh sori baru bales, ternyata niat kembali aktif di mp gak segampang yang gue kira)

Gue sepakat sama Roby, memang masalah Indonesia itu kompleks dan masyarakatnya punya masalah sendiri di dalam kulturnya yang jangan-jangan lebih besar dari masalah warisan dari eyang jenderal. Dan inilah kenapa kata si ismet yang blog-nya jadi inspirasi blog ini, film itu bisa berbuat banyak dengan berbicara kepada penontonnya.

Nah, masalah yang pingin gue omongin sama penonton di Indonesia dari film-film ini adalah this simple:

mengapa kita begitu gampang melupakan kesalahan si eyang...? memangnya mau balik lagi?
udah lupa gemana gak enaknya situasi jaman dulu?

Karena gue sih cukup percaya bahwa budaya politik di tingkat yang berbeda-beda memang masih dibentuk dari atas ke bawah, mungkin yang paling leluasa menyampaikan ide Roby untuk mempermasalahkan budaya kontrol dan kepatuhan terpusat adalah ide 1.g. : kultur birokrasi ukuran besar yang dibuat untuk memenangi pemilu, tapi juga berhasil membentuk sebuah sistem feodalisme priyayi modern yang loyal.

Di luar loyalitas ini, euphoria pro eyang di hari pemakamannya kemaren sih buat gue bener2 bentukan media massa terutama tv yang hari itu patuh pada kontrol keluarga. Laporan dari seorang narasumber yang diwawancara secara langsung di hari itu: produser acara terus menerus meminta dia menyebut eyang dengan panggilan depan "Pak" instead dengan menyebut namanya saja, karena Cendana menelepon berulang2 untuk memastikan hal itu. Kenapa mereka bisa patuh? Kalau soal ini sih gue ragu karena kultur manut, tapi lebih karena kepemilikan keluarga Cendana di media2 itu dan pertimbangan2 politik pemilik2 TV yang bersangkutan.
menjadi wrote on Feb 9
oh iya, ada ide baru tuh, nomor 2 h.
ismet wrote on Feb 13
Kalo gue tit, akan bikin drama seks, pasti gila-gilaan. Atau kalo enggak, bokep ala Vivid Interactive sekalian. Adegan seksnya banyak banget, dan bisa melibatkan banyak sekali artis dari jaman dulu sampai sekarang. Mulai dari Rahayu Effendi sampai Laudya Chynthia Bella! Keren gak? Mungkin endingnya akan berupa orgy di Cendana, melibatkan seluruh ajudan, penjilat (hehehe, penjilat), anjing penjaga, sapi tapos pembantu sampai ke pengawal dengan berbagai alat bantu seperti pistol, tank, jeruk pontianak, cengkeh, pilar-pilar jalan tol, botol-botol alkohol arbamass, dll.
kuntarini wrote on Jun 10
Serius nih mau bikin film?

Gimana kalo idenya.........*via ym aja To.....* :-)
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help