 | Category: | Movies | | Genre: | Action & Adventure |
I'll make it short. 1. I broke my oath not to write reviews about Indonesian movie, but damn, I'm not a critic I'm a fan. 2. Actually, it's either you love it so much or simply hate it. 3. I agree with sinema indonesia ( http://www.sinema-indonesia.com/ ) that says the less you know about this movie, the more you can enjoy it. 4. However I think sinema indonesia somehow overhearded and stole my line when I told the director that I was having an orgasm during the movie. Well, they might not steal it. Maybe it's normal for many people to having cinematic orgasmo during this movie. 5. Now I believe Joko Anwar is the "Sutradara terbesar se-Indonesia". (he would reply with "maksud lo tergendut?". No, Joko. TerBESAR. kekekek). But seriously, he's a great director. 6. Damn, i still cant believe I write a review on Indonesian movie.   | wah wah .. bisa dikirim ke amerika ga, to?
|
 | yaaah.. gue coba tanya sama orangnya ya Rip. |
Comment deleted at the request of the author.
 | kacauw lo nonton film bisa orgasm...sinting...eniwei lo di indo neh???.....nitip komik mimin dong hahahahahahahahhah |
 | gue pengen nonton... nitippppp! "it's either you love it so much or simply hate it?" -- ternyata ini line favorit lo ya? hahaha.... |
 | re: 6: well dont worry you havent written a review you just said you had cinematic orgasmo and that joko is the greatest director in this lovely cuntry thats not a review thats licking ass |
 | I am a fan too...kipas anginkan maksudnya... :p |
 | yaampun, mas tito sukanya ini to. hehe. pasti mas joko merasa sangat sangat tersanjung:p aku juga suka film ini, ya daripada nagabonar gituhhhh. meski karakternya rada kurang tergarap yah. still I love it. *mbok nulisnya kayak kalo lagi nulis email garing itu hehe. puanjang dan mempesona kikiki* |
 | mira: nggak lagi kok. sandra: bukan san. dimas: ya bisa lah, emangnya lo orgasm kalo ngapain? ;p intan: eh, gue pernah bilang itu di mana? the truth: he's the biggest, not the greatest. but he's great, period. licking ass? maybe. but he deserves it this time. and, uhhmmm... so a review can't give compliment? ajeng: iya kipas angin jeng... vero: hehehe... beneran deh, the less you know about this movie the more you enjoy it. Soalnya gue juga gak punya ekspektansi apa2 waktu nonton. Dan toh, banyak juga yang gue tau benci banget sama film ini, terutama bagian ... . |
 | have you said anything ANYTHING about the movie explain AT LEAST TO YOURSELF why youre giving away all those earcandies?  Mikael sayang,
I might not as sophisticated as you are, but for me, giving away the star rate alone is already a review. We might argue about the definition of the word 'review' over and over, but I didn't send it to any media that require the reader to pay, and I always treat my review in this blog as a report: of my feelings and my thoughts during and after the screening. I hope it would be helpful, but surely I can't make everybody happy.
Thus, we get to the place where we ask ourself what makes a movie (or art or even review) good. Since I never study film nor arts, I chose not to answer the question and just follow my feeling.
Anyhow, it still hurts to see people bitch me because of what I wrote. this is the reason, btw, why I chose not to write about Indonesian movies in the first place, the readers here relate more to it. Nulis jelek salah, nulis bagus (tanpa penjelasan) juga salah. But I take the risk; I don't mind if you think I made a bad review, as I think filmmakers shouldn't mind people think their movies suck. |
Comment deleted at the request of the author.
 | miranyala wrote on Apr 22, '07, edited on Apr 22, '07 to, gara2 elo gw ama iwan nonton film ini hari minggu lalu [iwan terbujukrayu gw tentunya..huehe...tapi kan gara2 elo...]. yang pasti dia suka, gue suka. joko penulis cerita yang baik, mampu menjalin fakta, khayalan dan premonisi dengan cukup meyakinkan. tapi buat gw pribadi eksekusinya terasa masih kurang dikiiiit. apa ya kira2 to? cinematic orgasm-nya blom nyampe-lah. sisanya review gw email/ PM aja yaaaa ^_^ |
 | We might argue about the definition of the word 'review' over and over, but I didn't send it to any media that require the reader to pay, and I always treat my review in this blog as a report: of my feelings and my thoughts during and after the screening.  nek, kalau kau lihat reply terakhirku itu kan ada tuh keterangannya 'edited on ...', tahu nggak apa yg gue edit? sesuatu seperti 'dan jangan sangka aku hanya mempermasalahkan definisi kata "review" itu', tapi ya aku hapus karena aku kira tentunya kau sudah tahu itu. mungkin aku berharap terlalu banyak.
kalaupun review ini adalah reportase yer feelings&thoughts, ya i get the feelings, but thoughts? where art thou?
sekali lagi, mungkin gue berharap terlalu banyak, tapi tak papa toh, kukira kala deserves to be talked about seriously.
gue sih gak peduli lu 'nulis jelek' atau 'nulis bagus' asal lu kasih gue penjelasannya. selama kau belum melakukan itu,
i will remain,
your bitch. |
 | serpi wrote on Apr 23, '07 U're a narcistic biyaaatch! |
Comment deleted at the request of the thread owner.
 | boleh numpang komen jugakah? yang satu suka duren, yang laen suka apel, gak bisa dipaksain or disamain. namanya juga selera. tapi, kl ngomong :"ya, gue suka aja", itu emang "Indonesia" banget, kayaknya. emang sih, di tulisan di atas gak ada cukup penjelasan kenapa harus ada bintang 5. tp apa emang ada harus ada penjelasan? bagi gue, harus. tapi kalau alasannya: "ini pan blog gw. serah gw dong. karena itu gw g nulis di media", itu juga sah2 aja, kayaknya. peace! |
 | menjadi wrote on Apr 23, '07, edited on Apr 23, '07  your bitch.  ah,
this time you're not bitch enough. I need more.
However, thanks for giving such high expectation on me, but I really don't deserve that. The movie, on a contrary, deserves better reviews. But I'll let the pro do that. |
 | wow .. rame..
tito, kirimin film masih ditunggu .. hehehe :p |
 | ketidakmampuan mengomunikasikan ide seharusnya tidak dibalut dengan alasan kebebasan berekspresi. pembaca, walau cuma di mp or blog, berhak tahu mengapa seorang penulis memuji atau menghujat sebuah karya. kalau pelukis bertanggungjawab pada publik dengan menggelar pameran, maka tanggungjawab penulis adalah memberikan penjabaran yang memuaskan tentang apa yang ditulisnya.
kasus 1: t: "bagaimana hubungan anda dengan X" j: "no comment"
ini konteksnya seseorang ditanya, dan dia berhak tidak menjawab. kasus 2: pernyataan: "film KALA bagus banget" pembaca: "bagusnya dimana? j: pokoknya bagus aja. konteksnya: kalau sudah melemparkan ide, harus mampu menjelaskan ide itu.
dlm tulisan2 gw, gw selalu menekankan, haram hukumnya memberikan penilaian kepada sebuah karya hanya dengan "film ini oke" atau "aktingnya kurang" semata. dan gw masih belum nemu kenapa tito gak mau jelasin (dan itu tidak sama dengan "nulis banyak2"). dan kalau takut dikritik adalah alasan untuk tidak mau membuat tulisan kritik, maka sesungguhnya kehidupan sangat menghargai orang-orang pemberani. :) peace!
satu lagi, istilah "indonesia banget" gw dapet karena ngobrol2 dengan bule2 dan sebangsanya. orang Barat (tito mungkin lebih tahu karena kuliah di luar) kalau melempar gagasan ke publik (atau kalau ditanya) bisa menjelaskan mengapa suka atau benci dengan sesuatu. tapi orang indonesia banyak yang cuma "ya suka aja", atau "pokoknya jelek deh", tanpa ada penjabaran. mengapa? benarkah? wah perlu ada topik baru lagi... |
 | miranyala wrote on Apr 24, '07, edited on Apr 24, '07 "konteksnya: kalau sudah melemparkan ide, harus mampu menjelaskan ide itu" --------> dalam hal ini tidak ada hubungannya dengan kemampuan tetapi KEMAUAN dan intensi penulis/orang yang ditanya/sipelempar ide/tito dalam menuliskan/melempar idenya. dan si pelempar ide/orang yang ditanya BERHAK untuk TIDAK MAU menjawab demi mempertahankan intensinya tersebut. pembaca seperti anda juga berhak kesal karena tidak ada penjelasan tapi tidak berhak memaksa si pelempar ide/orang yang ditanya untuk menjelaskan karena dia sudah menjawab bahwa dia tidak mau menjelaskan soal yang ditanya pembaca. dan Tito juga pemberani: berani untuk menjawab dengan cara tidak menjawab/menjelaskan dan hal ini sesuai dengan maksud dia menulis dengan resiko ditanya-tanya kaum harafiah. Jawaban/penjelasan dia adalah dengan mengambil sikap untuk tidak menjawab/menjelaskan karena tidak semua hal [di dunia dan di Indonesia] harus dijelaskan dengan jawaban yang gamblang.
|
 | ada hubungannya dengan kemampuan, juga ada dengan kemampuan. bisa juga keduanya. tapi saya tidak tahu tito ada di bagian yang mana, mungkin ada pada "kemauan". masalahnya timbul karena tito menuliskannya di rubrik "review".sepertinya dia berhutang penjelasan. lain halnya kalau diposting di bagian "blog". bagi saya lho... review, seperti kata "mikael sayang" bicara soal rasa dan pikiran. bagi saya, review juga sebagai panduan menonton (informatif), dan juga jembatan antara sineas dengan penontonnya. kalau tidak ada penjelasan yang memadai, dua fungsi kritik di atas tidak berjalan. sama aja dengan ngobrol biasa, "ah film kacrut, gak usah ditontonlah". yang mendengar dan belum menonton terkadang ada juga yang menelan mentah2. tapi ada juga yang protes, karena tidak mendapat keterangan "kenapa bisa lu bilang kacrut?". begitu juga kalau memuji. oh iya lupa, ini di MP pribadi ya? iya sih. tapi kan di REVIEW. dan pake pasang 5 bintang. Jadi, to, lu nulis review KALA ini buat apa? kalau buat pribadi, ya gpp juga sih. tapi bagi gw lebih pas kalau di "blog". oh iya, salah lagi, ini MP elu ya, jadi terserah lu mau dimana aja. (sori to, no heart's feeling).
soal pemberani, saya mampu menjelasan. tapi saya tidak mau. karena saya berhak untuk tidak menjelaskan. :). tapi saya jadi ingat sebuah lawakan formula kuno. a: tadi saya ketemu cewek cakep. gue ajak kenalan. eh dia mau. tapi... (si a tidak meneruskan kalimatnya. lantas ia mengambil makan, dan menonton tv. b yang nungguin kesal). b: iya, tapi apa? terusin dong. a: oh, nungguin ya? ngeselin? iya. informatif? tidak sepenuhnya. |
 | menjadi wrote on Apr 24, '07, edited on Apr 24, '07 bujuk buneng, rame amat ini bocah-bocah…
Thank you for such attention, I feel bad because I can’t return the attention to your postings. I’ll do it when I can breathe a little. It’s also been a pleasure to have comments from real life heavyweight reviewers like Mikael sayang and Ekky (tenang Ky, none taken personally). Geeran mode thinking, it’s been a nice discussion about aesthetics, the measurement of aesthetics, and the aesthetics of measuring aesthetics (ooh I love myself, yes Serpi, I’m a narcissistic biaaatch myself). So, I try to review (halah) everything but I doubt I would satisfy everyone. I’ll make it short: :D
1. I had so much fun watching, I wanted to have fun writing on it. 2. I read reviews after watching, I try not to have expectation beforehand. I know, many people do it in reverse order, and I address these people with normal preference, while still try hard to free them from anticipation (okay I know I gave it 5 stars, but I also ‘neutralized’ the readers with my all time line: you’ll love it so much or simply hate it... duh ketahuan deh taktik gue, gak aci ya?). 3. I even out loudly mention this position: buat Ekky: lihat point gue nomor 3 di atas. 4. The two famous reviewers here, they read my review after watching. Especially if they have certain opinion toward the movie, my 5 stars surely raise question. And I keep the curiosity left unsolved. I admit I might be upset if I were in your position. Or,… not? 5. Did I put my thoughts there? Well, maybe not for the reason I put 5 stars, but yes in figuring out the effects of this film to my feeling and the position of the director within the scope of Indonesian film industry. 6. I’m so tired people judging me of where I went to school. I really wish sometime there will be time when people take me for what I am. (when I say people I mean women… wakakak, kok jadi curhat… attention my ex-es, I’m kidding here. You’re all the best in the world. Its really my lost to lose all of you. Would you ALL take me back? Not even only for one night?).
Please please please keep bitching me, I'm addicted. I just realize that its been awhile since the last time I have it in real life. Poor miserable me. |
 | gue setuju dengan mira, kebebasan berekspresi. Jadi buat yang ngamuk pake bilang licking ass segala iihhh,... kenapa juga datangin multiply dan baca review orang, di multiply orang heheheh kecian deh lo, ngamuk di milis, ngamuk di web orang, wong yang lain aja nyantai kok. Mau Tito nulis apapun di web dia ya terserah dia. Lagian Kala itu memang bintang 5 secara ide, secara dia sudah memberikan kesegaran baru di film Indonesia, idenya beda dan tidak mainstream, walaupun banyak sentuhan "rasa" film favorit Joko di situ (ala detektif, silat atau tutur tinular kek teserah). Jadi Tito.... write anythin you please hehehehe |
 | menjadi wrote on Apr 25, '07, edited on Apr 25, '07 olin...!
awas ya bo, kalo bitches eike brenti bitching gara2 yei, situ harus tanggung jawab. |
 | hehehe seru nih pembahasannya. sayangnya pas gw mau nonton di bioskop, ternyata dah ga ada! cuma seminggu!! gile ya filem bagus gitu cuma seminggu. sementara filem horor2 kacrut ga jelas bisa sampe berbulan2! |
 | iya, sedih juga pas bilang ke orang2 untuk nonton film itu biar gak (menyesal ketika sudah) diturunin 21, mereka pikir itu taktik promosi murahan... :( |
 | too bad, by the time I want to watch KALA, it has already disappeared from my favourite movie theatre. So last week I found one cineplex in my city is still playing that film. Embracing myself I found that THE Cineplex is a C-Grade Cineplex, stranded, spooky and the guy who tear the ticket looked like he's been out from Arkham Asylum with a cheap tatoo on his bloated belly. Not to mention, all the "preman" there who looked at me as if i'm a fresh meat.
Being spooked by the premans, I decided not to watch it since I heard that mugging often happened INSIDE that C-Grade Cineplex...altough I'm dying to see KALA...
Kapan sih KALA keluar DVDnya? |
 | I wouldn't go if I were you. Kapan ya DVD Kala keluar? Wah, gak tau juga deh tuh. Jangan sampe akhirnya gak keluar :( |
 | Pasti keluar lah, minimal versi VCD nya. Wong film "Aku diperkosa ayah tiriku" aja beredar kok di toko2 kyk Planet Studio n dah masuk rental2 resmi pula. |
 | hopefully... hopefully... |
 | Btw dah liat my wife's a gangster 3? Bole tahan juga, dibanding yg ke 2 |
 | yup, udah beli, udah nonton lagi... CD soundtrack-nya juga udah keluar |
| |