tito's posts with tag: fiction

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag fiction
Blog EntryMerconFeb 23, '06 3:21 PM
for everyone

Bulan puasa selalu menyenangkan. Sekolah diliburkan seminggu, dan kami bisa bersama-sama terus. Bergembira saja, dan melakukan hal yang sama setiap harinya.
Pagi-pagi sekali membangunkan orang untuk makan sahur. Selepas subuh bermain lagi, hingga mata terasa berat karena mengantuk. Biasanya kami tertidur bertiga, di rumahku, Agus atau Sigit. Siang-siang kami terjaga, dan bermain lagi hingga bedug maghrib terdengar. Suara bedug bagaikan aba-aba bagi kami, untuk berlomba lari pulang ke rumah, dan minum sepuasnya. Setelah itu, kami kembali bersama untuk shalat Tarawih di mushola.
Setelah terbangun siang-siang, biasanya kami berenang. Kadang-kadang… hi hi hi… air sungainya tertelan. Kata Pak haji, kalau tak disengaja, itu tak membatalkan puasa. Setelah puas berenang, kami keliling kampung naik sepeda. Berenang dan main sepeda, memang bisa dilakukan setiap bulan, tapi rasanya tak seenak saat itu.
Di bulan puasa ada permainan yang tidak terdapat di bulan-bulan lainnya. Mercon. Kami bermain mercon, segala jenis mercon. Di depan rumah, di pinggir sungai, membangunkan orang sahur, menakut-nakuti anak-anak perempuan, dan membatalkan puasa orang-orang.
Saat itu di mana-mana terdengar bunyi mercon. Kata orang, dulu lebih banyak, dan sekarang ini dilarang. Entah siapa yang melarang, yang jelas setiap terdengar bunyi mercon, banyak orang yang menyumpah-nyumpah karena terkejut. Lucu sekali melihat mereka. Pak haji juga pernah kami bikin kaget setengah mati. Ketika ia marah-marah menghampiri, kami ingatkan bahwa ia sedang berpuasa, ha ha ha… .
Di desa kami, mercon yang paling terkenal adalah mercon milik anak-anak dari dukuh satu. Mereka membuat mercon long, dari bambu besar, yang dilubangi dan diisi minyak tanah. Tak ada mercon di desa kami yang bisa menyaingi. Mercon karbit atau long dari dukuh lainnya tidak bisa berbunyi sekeras itu.
*
Minggu kedua puasa kami sekolah lagi. Aneh rasanya bersekolah tanpa bisa jajan. Suasana pun aneh. Anak-anak tidak berlarian seperti biasanya. Semuanya seperti berlangsung lebih tertib. Atau lebih lambat. Di hari itu tidak semua guru masuk mengajar. Yang masuk tidak bersuara keras. Mungkin mengantuk, mungkin lemas.
Guru IPA mengajar kami di jam terakhir. Di bulan-bulan lain, ia adalah seorang guru yang galak, seperti di bulan-bulan lain kami semua adalah murid-murid yang nakal. Tapi kali ini, ia penuh senyum, sabar, dan sangat ramah. Ia masuk, melempar senyum, mengucapkan salam, mengabsen kami satu per satu, lalu memulai pelajaran.
“Siapa yang pernah denger kata biogas?”
Anak-anak semua diam.
“Gas itu bentuknya seperti asap, bisa melayang di udara. Seperti minyak, gas bisa menyalakan api, buat masak misalnya. Kalau orang menambang minyak, biasanya juga dapat gas. Tapi biogas ini tidak diperoleh di tambang minyak. Biogas ini dihasilkan oleh reaksi kimia dari kotoran… .” pak guru tampak ragu-ragu melanjutkan kalimatnya.
“Tinja ya pak?” Sigit menyela.
Anak-anak tertawa.
“Ya. bener. Maksud saya memang tinja. Tinja kambing, tinja sapi, kuda, ayam, atau ternak-ternak lain yang ada di kampung kita. Tinja manusia juga bisa.”
Tawa anak-anak menghilang. Mata Sigit berbinar-binar. Ia memang selalu tertarik pada pelajaran IPA.
“Kalau ndak percaya, silahkan dateng ke rumah saya pulang sekolah nanti. Kompor saya sekarang ndak pakai minyak tanah lagi.” Pak guru tersenyum melihat wajah murid-muridnya, “ya sudah, kita bahas gas ya, buka bukunya halaman tujuh puluh empat… .”
Aku tak terlalu heran ketika Sigit membujuk aku dan Agus untuk bersama-sama ke rumah Pak guru, setelah bel pulang sekolah berbunyi.
“Ayolah Rot, Gus, rumah Pak guru kan nggak jauh… .”
“Kalau aku nggak apa-apa. Tapi Agus nggak bawa sepeda. Kasian dia.”
“Sini, biar Agus naik sepedaku.”
“Lho, kamunya?” tanya Agus.
“Aku mbonceng pak guru, aku sudah bilang kok tadi.”
“Lha pulangnya? Boncengan?”
“Gampang… .”
Sampai di rumah Pak guru kami ditunjukkan kompor ajaib itu. Pak guru membuat semacam bak yang ditutup rapat. Ia memasukkan kotoran-kotoran ternak milik tetangganya ke dalam bak itu. Sebuah selang menghubungkan bak itu dengan kompor di dapurnya. Sigit bertanya terus dan Pak guru menerangkan dengan sabar.
Setelah puas, kami pulang berjalan kaki. Tak lama lagi maghrib. Aku dan Sigit mendorong sepeda, Agus berjalan di antara kami.
“Mikir apa, Git?” tanya Agus.
“Kupikir, kita bisa bikin mercon dari biogas.”
“Ha? Gila kamu. Gimana caranya?” balas Agus lagi.
Aku juga ingin mendengar caranya.
“Sama aja kan? Kalau bisa diatur untuk bikin api sekecil itu, tentu bisa juga bikin ledakan besar. Aku yakin, kalau kotorannya banyak, kita bisa mengalahkan anak-anak dukuh satu. Asal tutupnya rapat.”
“Kamu yakin?” Suara letusan yang mengalahkan suara mercon anak-anak dukuh satu terbayang di depan mataku.
Sigit meyakinkan kami. Ia paham semua prosesnya. Kami pun berbagi tugas. Setelah itu kami semua terdiam. Menjelang sampai di rumah, suara beduk maghrib bertalu-talu. Kali ini tak ada yang berlari.
*
Esok harinya kami bekerja keras. Awalnya, Sigit meminta kami menggali lubang yang cukup dalam, kira-kira satu meter, di lapangan kosong dekat sawah depan rumah kami. Lubang itu cukup untuk menampung kami bertiga duduk di dalamnya. Setelah itu Sigit menutupnya dengan kayu penutup drum yang telah dipersiapkannya dari rumah. Kayu penutup itu telah ia lubangi di tiga tempat yang terpisah.
“Kenapa lubangnya ada tiga?” tanyaku.
“Agar cepat mengisinya, semalam kupikir kita lombakan saja. Masing-masing memiliki sebuah lubang, siapa yang lebih dulu penuh menang.” Jawab Sigit santai. Sambil menyumbat ketiga lubang itu dengan sebatang kayu yang dililit dengan karet bekas ban. Ia selalu menyiapkan segalanya. “Jadi kamu mengisi lubang yang ini, kamu yang ini dan aku yang ini.”
Maka mulai keesokan harinya aku selalu memasang mata setiap melewati kandang kerbau, sapi atau kuda. Akhirnya kupilih kandang sapi dan kerbau milik Pak haji untuk kubersihkan setiap hari. Ia tampak heran dengan kesediaanku, dan di akhir minggu, ia memberikanku uang saku. Tentu saja ia tak tahu bahwa kotoran ternaknya selalu kubawa dengan karung untuk dimasukkan ke dalam lubang yang kami gali.
Ibuku juga heran karena setiap hari aku pulang dengan pakaian yang kotor. Tapi, kemudian ia membiarkanku karena mengira aku bekerja untuk mendapatkan uang saku.
Agus mungkin yang paling malas di antara kami. Lubang bagiannya tidak sepenuh milikku dan Sigit. Ternyata ia hanya mengumpulkan kotoran yang ia temui di jalan. Setelah menyadari kekalahannya ia mengganti siasat. Ia mulai mengkhususkan diri pada kandang ayam dan itik yang belum sempat tergarap. Aku juga beberapa kali memergoki dia buang hajat di lubangnya. Aku dan Sigit tidak mau kalah. Di akhir minggu kami buang hajat bersama-sama.
Lebaran seminggu lagi. Sekolah kembali libur. Sigit ternyata berlebaran di rumah eyangnya di Salatiga, sedangkan aku di rumah Bude di Wonogiri. Hanya Agus yang tetap di kampung. Sanak keluarga akan berkumpul di rumahnya.
Aku akan berangkat hari Minggu sore, dua hari sebelum lebaran. Sigit dan keluarga berangkat Senin pagi. Maka hari terakhir kami bersama-sama adalah hari Minggu. Setelah berunding, diputuskan bahwa mercon akan diledakkan hari Minggu pukul sepuluh pagi. Kini kami harus melengkapi bahan bakar.
Tibalah hari besar itu. Shalawat sudah mulai terdengar. Langit cerah, suasana begitu menyenangkan. Bapakku mencuci mobil yang baru disewanya. Ibu Sigit menjemur pakaian di halaman. Agus dan keluarganya mengecat dinding rumah. Pak haji berkeliling dan membalas salam orang-orang yang berpapasan dengannya.
Jam sepuluh kami berkumpul di depan lubang keramat. Inilah waktunya. Kami sangat tegang. Jantungku berdebar-debar. Terdengar Agus membisikkan doa.
Sigit menyalakan korek api yang dibawanya dari rumah. Ia membuka salah satu sumbat. Korek itu dicemplungkan ke dalam. Tidak ada suara apa-apa.
“Mungkin koreknya mati. Sini, aku yang masukkan.” Agus tidak sabar. Suaranya cemas. Aku lemas. Rasanya apa yang kami lakukan selama ini sia-sia saja. Anak-anak dukuh satu tetap memiliki mercon paling keras suaranya.
“Jhebrrrruuuuuuuaaaaaaaaaaaatttt!”
Bumi bergetar, pohon-pohon bergoyang-goyang, daun-daun berguguran. Aku tak bisa melihat apa-apa, karena mataku tertutup sesuatu dan terasa panas. Kusapu mataku, dan kulihat bajuku terbakar. Aku berguling di tanah. Orang-orang berteriak-teriak panik, berlarian berdatangan dari segala penjuru. Suaranya riuh rendah.
Aku bangun. Telingaku masih berdengung. Kotoran di mana-mana. Mobil sewaan bapak, jemuran ibu Sigit, rumah Agus, rumahku, rumah Sigit, rumah Pak haji, dan rumah-rumah lain yang ada di sekitar situ. Bapak dan Ibu menjewer kupingku, lalu menyeretku pulang. Orang-orang berkerumun memandangi. Anak-anak dukuh satu bertepuk tangan.
Hari itu aku tak jadi berangkat ke Wonogiri, karena sepanjang hari serta esoknya aku, Sigit dan Agus harus membersihkan segala kotoran. Tapi, ini adalah bulan puasa yang akan selalu kukenang. Kerja keras itu ternyata tidak sia-sia. Kami bangga dan sangat senang.

Ciledug, December 06, 2000


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help