Sebagai penarik becak di Manhattan, Gagas cukup kenal liku-liku jalan di sana. Walau downtown dan midtown kelihatannya datar-datar saja, namun ia tahu semakin ke atas sebuah tempat di peta Manhattan, semakin menanjak ke atas jugalah jalan-jalannya. Maka, ketika seorang nyonya tua menawarkan lima puluh dolar untuk membawanya dari 33rd ke 87th street di Upper West Side, dia pikir-pikir dulu. Lebih dari lima puluh blok. Penamaan jalan di New York memang memudahkan orang membayangkan lokasi sebuah tempat. Semakin kecil nomor jalannya, semakin dekat ke downtown di selatan, dan sebaliknya.
Lima puluh dolar uang yang banyak, tapi perjalanannya juga jauh dan melelahkan. Tanjakan di uptown jelas semakin terjal. Tapi dia belum mendapatkan apa-apa sejak membawa keluar becaknya dari pangkalan. Ia tahu tak ada penarik becak kulit putih yang akan mengiyakan tawaran ini, namun ia melihatnya sebagai penglaris untuk memulai hari. Upper West Side adalah daerah tuan dan nyonya kaya, mungkin ia akan mendapat penumpang lagi di sana. Lagipula, kalau mereka ingin ke bawah, jalan-jalan akan menurun nantinya.
Hari yang dingin untuk musim semi, tapi tak cukup dingin untuk menahan keringatnya. Ia berhenti dan membuka jaket menjelang masuk Central Park. Jalan di dalam taman jelas lebih nyaman ketimbang harus berhenti di setiap persimpangan. Pedalnya memberat, walau dia sudah masuk ke tansmisi paling ringan, tanda bahwa tanjakan semakin menantang. Sesekali ia harus mengerem juga, karena banyak orang menyeberang. Sialan, hari ini banyak sekali orang jogging siang-siang. Mengapa ada banyak orang yang tidak perlu mencari uang?
Si Nyonya senang sekali dengan pilihan rute ini. Ia pun bercerita kenangan-kenangan. Cerita-cerita itu sederhana saja, kencan pertama dengan pacar di skating rink, perpisahan dekat the plaza waktu sang pacar berangkat perang. Naik becak, perjalanan adalah tujuan, dan pemandangan memanjakan angan-angan. Gagas lalu membayangkan cerita-cerita si Nyonya dalam gambar hitam putih, seperti foto dan film tua. Jangan-jangan cherry blossom indah magenta ini pun dulunya hitam putih belaka?
Mereka keluar taman, dan lalu lintas di atas sini memang tak seramai daerah sibuk di bawah sana. Betul dugaan Gagas, Sang Nyonya turun di depan sebuah gedung apartemen mewah. Dia memberikan tip sepuluh dolar, menjadi awal yang bagus untuk hari ini. Setoran becak tiga puluh dolar di musim semi, dan jumlah yang sama sudah ia kantongi sendiri. Kalau benar ia bisa mendapat penumpang turun ke midtown, maka hampirlah tercapai setengah targetnya untuk sepanjang hari. Mungkin ia bisa mentraktir Carol nonton film malam nanti? Tapi apa bisa mendapatkan penumpang di daerah ini?
Aku harus menjauhi jalan besar, ke tempat orang-orang tak mudah bertemu taksi. Tapi kenapa sepi sekali di sini? Ah, itu ada perempuan dengan tas belanja. Wait a minute, she wears… kebaya…!!!
*
Carol telah mengembalikan becaknya ke pangkalan dan membayar uang setoran. Kini ia menanti dan menanti. Dicobanya menelepon Gagas, tapi ponselnya mati. Jarang-jarang Gagas membuatnya cemas begini. Dia penarik becak ulung, seringkali perolehannya di atas tukang becak lain. Aneh, padahal dia jarang mangkal di pusat-pusat wisata. Turis-turis jelas bukan buruan utamanya. Padahal, turislah yang biasanya memberi tip paling banyak. Ditambah lagi, dengan penampilannya, Gagas akan lebih mudah dipercaya turis-turis luar negeri, apalagi dari Asia.
Aneh, tak biasanya dia ingkar janji. Mana orang itu? Aku baru berniat mentraktirnya nonton film setelah makan malam. Kalau sudah terbiasa bersama, makan seorang diri sungguh tidak menyenangkan. Kuharap ia sudah makan dan kami masih bisa nonton pemutaran terakhir. Bagaimana ya ketika bertemu dengannya nanti? Sudah bolehkah aku merajuk, sedikit?
Darn. Move orang ini lambat sekali. Memang aku yang harus menyesuaikan diri. Enam bulan selalu bersama, dan belum pernah ia menyentuhku. Well, tapi dia selalu manis, siap membantu, dan kupikir, reaksi kimia antara kami tidak terbantahkan. Kami menikmati saat-saat bersama, dan seharusnya sekarang sudah tiba waktunya kami bercinta. Sialan. Aku akan berhenti menjadi perempuan baik-baik saat bertemu dengannya nanti.
*
Namanya Asih. Lengkapnya Rumiasih. Dua puluh tiga tahun. Bekerja sebagai pembantu rumah tangga di keluarga diplomat Indonesia. Asih Asih Asih. Hihihi… namanya, apa ya artinya?
“Saya ndak tahu, ndak ada artinya…”
“Oooh….”
Pemalu. Atau misterius?
“Sudah pernah jalan-jalan ke Times Square? Kita belanja sayuran di sana saja mau…? Dekat sana ada toko besar buat belanja juga.”
“Ndak. Saya ditunggu. Lagipula, nyonyah saya pakai kartu diskon toko sayuran di seratus sepuluh street itu.”
“Pulangnya naik apa? Sama saya lagi ya? Saya tunggu, masih gratis.”
“Jangan aah… pokoknya nanti saya bayar.”
“Lho, tadi katanya pakai kartu subway dari nyonyah?”
“Iya, becaknya saya bayar pakai uang saya sendiri.”
“Waduh, nggak perlu…”
“Nggak pa pa…”
Gengsian. Oke.
“Iya, yang ini tokonya. Stop di sini.” Asih turun dari becak. “Ini uangnya.” Ia mengulurkan uang tiga dolar.
Gagas tersenyum. Tiga dolar untuk dua puluh blok lebih. Ia mengurungkan niatnya untuk menolak uang itu. “Terima kasih, mbak. Saya tunggu di sini ya?”
“Tapi saya mungkin lama lho…?”
“Nggak apa-apa.”
Asih tersenyum. “Mas namanya siapa?”
Mereka berkenalan. Gagas menunggu Asih hampir satu jam, lalu ia pun mengantarkan Asih pulang. Asih kelihatan senang, ia tidak perlu menjinjing tas belanjaan naik turun tangga kereta subway. Sampai di rumahnya, ia membayar lagi tiga dolar.
“Sini saya bantu”
“Ndak usah, saya bisa sendiri kok, kan tinggal naik lift.”
“Saya bantu bawa sampai lift?”
“Ndak perlu, itu doorman saya datang, biasanya dia yang bantu.”
“Apa kamu sibuk setelah ini?”
Asih kelihatan kaget.
“Hmmm.. eh.. saya… harus mulai masak.”
“Yaah, sayang sekali. Ini malam sabtu, dan malam ini akan hangat lhoo… . Kalau begitu, mungkin kapan-kapan kita bisa ketemu lagi.”
Doorman apartemen menyapa Asih dan mengambil keranjang belanjaan. Ia menunggu.
“Hmmm.. saya bawa belanjaannya ke atas, nanti saya turun lagi. Tapi kita harus kembali ke sini jam lima ya?”
“I promise.”
Malam itu Gagas tidak bertemu Carol.
*
Sejak betemu Asih, Gagas hampir tidak pernah lagi bekerja. Setiap hari ia plesiran bersama Asih. Seperti hari ini. Asih memakai kaca mata hitam dan Gagas membawa belanjaan. Asih kelihatan senang sekali.
“Seneng ya kamu?”
“Iya… habis rame…”
“Kok seneng cari yang rame…?”
“Belum pernah. Saya sudah dua tahun di sini, tapi belum sempat ke mana-mana. Gak ada yang nemenin”
Mereka menyusuri East Village, Soho dan Chinatown. Di Chinatown Asih masuk ke salon kecantikan. Gagas menunggu di luar sambil merokok dan melihat-lihat. Asih keluar dari salon, dan jantung Gagas hampir berhenti melihatnya. Rambut Asih kini berwarna coklat kemerahan.
“Kenapa rambutmu di-cet…?
“Kan bagus begini… . Eh, bagus kaaan?”
“Eh, Bagus bagus… hehehe… bagus kok.”
“Makasih, sekarang kita makan yuuk, aku traktir. Habis itu temenin aku belanja ya? Aku mau beli oleh-oleh buat temen-temen di kampung.”
“Memang kapan mau pulang?”
“Kontrakku masih enam bulan lagi. Mas Gagas kapan pulang?”
“Ehm… aku gak tau…”
Keduanya diam sebentar. Gagas lalu tersenyum.
“Yuuk, katanya mau cari oleh-oleh. Di sebelah sana tuh tempatnya.”
*
Carol mengernyitkan dahi.
Mana mungkin Gagas jatuh cinta padanya? Dia baru saja kenal. Apa yang ia ketahui mengenai perempuan sundal itu? Love at first sight? No way. There’s no such thing.
Sudah jelas, Gagas rindu kampung halamannya. Dia memang sudah lama tidak pulang ke Indonesia. Ayahnya, dulu seorang tukang becak, telah lama meninggal dunia. Ibu Gagas yang bekerja keras membiayai sekolah anaknya. Gagas lulus sekolah tinggi pelayaran. Sepuluh tahun yang lalu, ketika sampai di sini, ia tidak pernah kembali ke kapalnya yang bersandar di pelabuhan. Nekat, nekat. Modalnya hanya selembar foto kopi paspor, karena paspor aslinya ditahan sebagai jaminan oleh nahkoda. Nekat. Sejak itu dia bekerja di restoran atau di konstruksi bangunan. Sampai akhirnya ia melihat pangkalan becak di Manhattan.
Carol menggeleng-gelengkan kepalanya.
Betapa tidak rasionalnya dia. Bersamaku dia lebih memiliki masa depan. Menikah denganku berarti memutihkan statusnya di negara ini. Tapi masalah ini bukan soal status. Kupikir ia sudah bisa melupakan asal-usulnya. Ini salahku. Seharusnya kularang ia makan di restoran Indonesia setiap minggu. Atau seharusnya kubuang potret ibunya sedari dulu. Tapi manalah mungkin aku tega berbuat itu?
Ini pilihannya. Dia harus memilih, perempuan itu atau aku? Huh, laki-laki memang selalu emosional dan terburu-buru. Ketika waktu berlalu, dia akan tahu ini cinta monyet yang semu. I mean, for God’s sake, betapa cocoknya kami, begitu saling melengkapi. Seharusnya sedari awal aku lebih cepat menerkamnya.
Hampir setiap hari ia pelesir bersama perempuan terkutuk itu. Ini sudah minggu kedua. Carol menggeleng-gelengkan kepalanya.
*
“Nunez, Asih sudah turun?”
Nunez, si Doorman apartemen Asih kelihatan lega melihat Gagas. Ia berlari menghampiri, dan dengan tergesa-gesa mencoba bicara, sulit sekali, mengingat bahasa Inggrisnya yang pas-pasan.
“Mister Gagas, Asih pergi. Seluruh keluarga pergi. Mister diplomat dipindah ke Geneve… mendadak…! Mereka semua pergi. Baru saja…! Berangkat ke bandara…!”
Muka Gagas berubah pucat. Ia belum pernah ke bandara dan naik pesawat. Ia mengambil ponselnya.
“Carol, eh, hari ini kamu belum narik kan? Temani aku ke bandara. Asih pergi, aku harus menyusulnya. Apa? … Aku belum pernah ke bandara. Kamu harus pergi dengan saya. … Please, kamu harus menolong temanmu. … Carol, ini soal hidup dan mati. … Apa? … Ehm, Nunez, bandara mana? … Newark…! Kita bertemu di mana? Ya… ya… tempat itu aku tahu. … Baik, kita bertemu di sana.”
*
Dalam kereta api dari bandara. Carol tidak tahu apa dia harus senang atau kasihan pada Gagas. Wajahnya pucat pasi. Tatapannya lurus ke depan, seolah-oleh ada pemandangan indah di terowongan gelap di luar jendela kereta subway.
“Gagas, cut it off. Memangnya gampang cari pesawat terbang di bandara? Kamu seharusnya bertanya nama maskapainya, jadi kita tidak perlu berputar-putar di setiap terminal…”
Gagas tidak bisa berkata-kata.
“Come on, Gas. Dia tidak berharga. Apa yang kamu tahu tentang dia? Dari ceritamu, kamu tertarik pada dia hanya gara-gara dia pakai baju yang sama dengan yang ada di foto ibumu.”
“Saya naksir berat…”
“Naksir berat? Kamu ter-obses sama dia…”
“Cinta itu obsesi.”
“Obsesi itu untuk remaja, Gagas. Cinta itu rasional. Seperti yang kita punya.”
Gagas kelihatan agak kaget pada keterus-terangan Carol. Ia menolehkan wajahnya sedikit, walau matanya tetap memandang ke luar jendela.
“Apa yang kita punya?”
“Hey, kalau kamu tidak bertemu perempuan sundal itu kita sudah bersama sekarang.”
“Jangan memanggil dia sundal”
“Ya, maaf. Tapi jangan bilang kamu nggak merasakan apa yang saya rasakan, jangan bilang kamu tidak menikmati semua percakapan kita. Percakapan yang membuat kita selalu pulang larut malam dan terlambat berangkat menarik becak. Kita punya banyak waktu susah dan senang bersama. Tujuan hidup kita sama, dan aku bisa gila kalau gak dengar suara ketawamu.”
Gagas masih tertegun, tapi air mukanya berubah.
“Kamu cuma kangen ibu kamu. Kamu pasti kepingin bisa pulang.”
Gagas tidak berkata apa-apa. Dia terdiam lama, bahkan ketika mereka sudah berganti kereta. Carol pun memilih menahan diri. Mereka asik dengan pikiran masing-masing. Barisan orang pulang kerja menyerbu gerbong mereka.
“Hati-hati dompetmu.”
Carol memegang dompet di tas punggungnya. Dia menoleh, Gagas sedang menatapnya.
“Hati-hati bibirmu.”
Gagas memegang pipi Carol, lalu mencium bibirnya. Carol kaget, tapi dia membalas ciuman itu.
“Gas, maaf ya aku bilang kamu kangen pingin pulang. Kapan-kapan aku ikut kamu liburan ke sana. Sekarang, yuk kita makan malam di… apa nama restoran kecil itu? Warteg?”
Gagas tersenyum dan mengangguk, mereka berciuman lagi.
*
Kereta berhenti, rel kereta api dan stasiun yang mereka lalui kini melayang di atas jalan. Gagas dan Carol berjalan turun tangga sambil berpegangan tangan. Di anak tangga terakhir, tepat di depan warteg, Gagas memperlambat jalannya.
Di pintu masuk warteg, Asih sedang duduk sambil memegang kopernya. Asih melihat Gagas, lalu melompat dan memeluknya.
“Aku kabur Mas, aku gak mau ikut ke Jenewa. Aku mau di sini sama Mas Gagas.”
Semua terpaku. Bahkan pegangan tangan Gagas dan Carol belum terlepas.
Queens, NYC, 12 Januari 2006
birthday present for Dhyta