tito's posts with tag: story

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag story
Blog EntryTewut Jan 30, '06 10:13 PM
for everyone

Malam yang dingin, menjelang pukul dua belas. Cahaya pucat neon menyapu kantor yang kosong menambah dingin udara dalam ruangan. Bunyi berdengung -entah dari mana- dan bunyi tuts yang ditekan menjadi satu dengan keheningan semesta. Sayup-sayup terdengar suara lalu lintas malam di kota yang tak pernah tidur, nun jauh di bawah sana.

Pras kembali berpikir untuk berhenti saja. Pendingin udara brengsek! Ia menaikkan retsleting jaketnya. Matanya perih karena telah seharian bekerja. Saat-saat begini, kapuk dipan ruang istirahat yang sudah hampir rata dengan alasnya itu terasa sangat menggoda. Betapa lembutnya. Betapa hangatnya.

Tidak. Hari ini gilirannya mengawasi angka-angka itu. Komputer. Internet. Monitor. Pekerjaannya di kawasan Financial District ini memang mengharuskannya memantau perkembangan valuta, bursa efek, harga saham dan bunga bank di seluruh dunia, dari waktu ke waktu. Kalau terjadi perubahan yang signifikan, ia harus membuat laporan.

Pras mencoba menguatkan dirinya. Sial sekali mendapatkan giliran di malam yang dingin ini, dan sial sekali harus mengelilingi dunia seorang diri. Damon dan James mungkin sudah selesai makan, pindah ke bar di West Village, memesan minuman, dan sudah memulai obrolan ngalor ngidul sambil berharap akan bertemu perempuan. Di kota ini semua orang kesepian.

Mungkin ada baiknya aku menyendiri saat ini. Sendirian, aku bisa punya waktu untuk memikirkan hidupku. Apakah aku memang harus pindah pekerjaan? Untuk apa? Pekerjaanku tidak berat. Membosankan? Ya, tapi sebanding dengan imbalannya. Lalu karir? Pantaskah pekerjaan ini untuk seorang sarjana ekonomi sepertiku? Ah, pada saat seperti sekarang ini, punya pekerjaan saja sudah bagus.

Mengawasi data dari internet bisa sangat menyenangkan. Kadang, jika memang sangat bosan, kan tinggal membuka sumbat jaringan. Informasi. Itu sudah semua yang dibutuhkan.

Jangan salah, ia tak pernah lalai bertugas. Hanya saja, angka-angka itu kadang begitu menjemukan. Kali ini pun begitu. Untuk melawan kantuk, ia menyalakan komputer lain, dan membuka pesan-pesan pribadinya. Tak ada yang baru. Kini ia bingung. Mau ngobrol, atau nonton? Ngobrol enak. Temannya pun banyak. Tapi malam begitu dingin. Akhirnya ia menuju jaringan pertunjukan bayaran. Cukup masukkan nomor kartu kredit, ia bisa langsung menyaksikan wanita-wanita cantik bercengkrama telanjang. Ia tersenyum kecil. Siapa cewek baru berambut poni ini?

“Liat apa, Mas…?” tiba-tiba terdengar suara dari belakang.

Pras kaget. Ia mencoba berdiri menutupi layar monitornya sambil menoleh ke belakang. Ada orang yang memanggilnya dengan bahasa Indonesia. Terlihatlah seorang laki-laki Eurasia berpakaian rapi. Ia belum pernah melihat laki-laki ini. Usianya mungkin tidak terlalu terpaut jauh, dan wajahnya memancarkan keramahan dan ketenangan yang luar biasa. Tiba-tiba, Pras merasa sangat tenteram.

“Aaah… , ndak mas, ini lho, cewek-cewek bugil. Malem-malem begini sepi, mas. Ngomong-ngomong, mau cari siapa tho, mas ?”

“Anu, nama saya Tewut. Saya ada perlu sama mas Prasetyo. Satpam suruh saya cari ke sini.”

“Lhaa… . Prasetyo itu ya saya sendiri. Ada apa, toh, mas ?”

“Lhoo… , sampeyan ini mas Prasetyo ? Kebetulan sekali.” Tewut mencari posisi duduk, lalu duduk di sisi Pras, “Mas ini gagah betul. Maaf lho mengganggu malam-malam begini.”

“Ndak apa-apa…”

“Saya ini datang membawa kebahagiaan untuk mas.”

Kebahagiaan ? Aku ? Orang ini aneh betul. Tapi aku kok percaya kepadanya. “Ehmm… kenapa saya ? Kebahagiaan apa ? Mas ini siapa toh ? Jangan maen-maen lho mas…”

“Jangan kaget ya mas, saya ini gendruwo. Tugas saya memberikan kebahagiaan bagi orang-orang kesepian seperti mas ini.”

Hening sebentar.

“Hmm… .” Pras menarik napas dalam-dalam, beberapa kali, lalu menjawab, “Bagaimana kau bisa membahagiakan aku ?”

“Mas Pras bersedia ikut saya…?”

Pras mengangguk. “Bagaimana…”

“Begini… .” Tiba-tiba monitor, tuts, dan suara dengung pendingin udara menghilang. "Kau lapar?”

Pras mengangguk.

Langit yang pucat tiba-tiba bersemburat kemerahan. Angin dingin bertiup kencang. Pras dan Tewut duduk saling berhadapan. Seorang pelayan datang membawa meja, lalu mencatat pesanan. Pras memandang ke kanan. Matahari terbit dari balik deretan bukit. Di sebelah kiri, gunung bromo masih tidur berselimut kabut. Turis dan warga setempat lewat sambil memberi hormat.

“Mengapa kita di sini?” tanya Pras, agak canggung.

“Tempat ini indah sekali.”

Tak ada yang bisa membantah hal itu.

“Tewut, ngomong-ngomong, apa yang bisa kulakukan padamu untuk menebus ini semua?”

Tewut tersenyum, “Ini tugasku. Kau hanya harus menikmati.” Matanya. Matanya yang membuat hati tenteram.

Setelah makan mereka ke panti pijat, lalu ke Bali, dan tidur-tiduran di pantainya bersama orang-orang bule. Pras senang sekali. Tewut gendruwo yang sangat menyenangkan. Semua yang berpapasan tersenyum atau melambaikan tangan. Ia memang tidak kelihatan berbeda dengan manusia biasa, hanya saja setiap ia melangkahkan kaki Pras selalu mendengar suara ‘teuut…, teuut…, teeut… .’ Pras menduga dari situlah tewut memperoleh namanya. Sebetulnya Pras baru tahu jika gendruwo bisa melayani manusia. Ia pernah mendengar cerita jin dari lampu wasiat yang memberikan apa saja yang diminta manusia, tapi permintaannya dibatasi hanya tiga. Ia bebas. Tewut benar-benar memanjakannya.

“Waaah… seger aku, Wut. Ke mana kita setelah ini ?”

“Mau masuk keputrenan kraton ?”

“Ha… ? Ada siapa di sana jaman sekarang ?”

“Belum mengerti juga ? Ruang dan waktu bukan penghalang buat kita. Aku pilihkan tempat dan saat yang terbaik untukmu.”

Maka Pras dan Tewut muncul di Kraton Solo pada akhir abad ke sembilan belas. Semua orang menyambut mereka, dan melayani dengan penuh suka cita. Mereka tinggal di sana selama berminggu-minggu. Pras betah sekali berada di sana, hingga suatu saat, ia teringat pada pekerjaannya. Pada ibunya.

“Wut, mari pulang, Wut…”

“Ndak mau tinggal di sini saja? Sudah tugasku membahagiakanmu.” Seorang wanita menghampiri, dan menciumi wajah Pras lalu dadanya.

“Aku seneng. Terima kasih banyak. Tapi aku harus pulang, Aku punya pekerjaan.”

"Kalau itu maumu..."

Langit-langit yang terang kini menjadi langit gelap. Sunyi. Bintang bertaburan. Nyanyian katak dan tarian kunang-kunang.

“Di mana ini? Ini kampung Drono? Ya. Ini kampungku.”
*
Malam yang dingin, mungkin sudah pukul dua belas. Cahaya pucat lampu neon yang keluar dari sela-sela pagar menambah dingin udara malam itu. Bulan tidak muncul. Gemerisik daun dan bunyi jangkrik yang sesekali terdengar menjadi satu dengan keheningan semesta. Sayup-sayup terdengar suara televisi penduduk yang belum dimatikan.

Perjalanan mereka berdua dilanjutkan melalui persawahan hingga pinggiran sungai. Pras duduk di atas sebuah batu besar, dan memandang buih-buih putih terbawa aliran sungai di antara batu-batu. Sebuah tanggul buatan jaman Belanda di dekatnya membuat arus sungai mengeluarkan suara keras, dan suara jangkrik serta katak ikut hanyut di dalamnya. Tewut memberikan sebuah lampu senter. Tidak jauh dari tempat duduknya, tampak seekor ular kecil yang berjuang berenang melawan arus.

“Mau ke mana ular itu?” Pras bertanya dalam hati.

“Pulang. Bertahun-tahun kau ndak pernah pulang, mengapa? Ayo pulang sekarang.”

“Nggak. Hari terlalu malam. Mari duduk di sini saja, berdiam-diam.”

“Kalau itu memang membuatmu bahagia… .”

Pras menarik napas sedalam-dalamnya. Air matanya menitik.

“Kau menangis? Ada apa?”

“Aku berjanji nggak akan pulang sebelum jadi orang.”

“Kamu orang yang sempurna bagi gendruwo sepertiku.”

Pras tersenyum. Tewut tersenyum. Senyum Tewut membuat tenteram.

“Mari pergi. Ada tayuban di dukuh dua."

"Tidak. Waktu kubilang ingin pulang, maksudku aku ingin pulang ke New York."

“Apa kamu ndak berbahagia di sini? Mari ke bulan.”

“Aku senang, Tewut, sahabatku, tapi bersenang-senang terus nggak membuat orang berbahagia.”

“Kalau berhenti kamu ndak bisa kembali lagi. Padahal kamu ndak suka keseharianmu.”

“Aku nggak bisa di sini selamanya. Orang nggak bisa melepaskan diri dari keseharian hidup. Aku juga nggak bisa.”

“Kalau keseharian hidup ndak membahagiakanmu, mungkin kamu harus lepaskan semuanya.”

“Apa namanya hidup tanpa kesehariannya? Memang seringkali menyebalkan, namun itulah segala yang kita miliki.”

“Bersamaku kamu bisa lepaskan semua yang menyebalkan.”

“Yang jelas aku ndak ingin melepaskan pekerjaanku.”

Tewut menarik napas sebentar. “Kalau itu maumu… .” Maka mereka muncul di pojok dinding, di bawah tangga darurat, di bawah tanah gedung kantor Pras. Gemuruh mesin-mesin besar menambah gerah hawa ruangan. Di sekitar mereka tampak tulang-belulang dan serpihan sisa daging binatang entah apa. Pras kaget sekali. “Apa ini ? Kenapa kita di sini ?”

“Kucing, tadinya. Kita selalu di sini. Kita ndak pernah ke mana-mana.”

“Maksudmu aku makan kucing ini ? Selama ini ?”

“Ya.”

Pras terdiam. Ia menaiki anak tangga. Makan kucing tidak merisaukannya betul. Tapi kenyataan bahwa semua yang ia alami hanyalah permainan Tewut, menyakiti hatinya.

”Aku betul-betul ingin membuatmu bahagia. Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal selamanya di sana.” Tewut menyusul naik di belakangnya.

“Aku ndak mau tinggal di … .” Pras tak meneruskan kalimatnya, tapi wajahnya marah sekali. “Kamu memberi kebahagiaan palsu… .”

“Yang penting adalah apa yang ada di hatimu. Rasa senang itu tidak palsu, tapi sesuatu yang murni. Sejati.”

“Panca inderaku ditipu. Perasaanku ditipu. Nggak ada yang murni soal itu. Semua orang ingin yang nyata, bukan hanya bayangan. Sesuatu yang benar-benar ada, bukan angan-angan.”

“Kamu tidak pernah mau pulang. Kamu menghindari kenyataan.”

Pras tidak menjawab. Mereka naik tangga sambil terdiam. Untuk beberapa lama.

Akhirnya Pras berhenti. “Jelaskanlah padaku kesejatian.”

Tewut terkejut. Ia masih terdiam. Air mata telah membasahi kedua pipinya.

“Aku tidak memahami kesejatian. Keahlianku membuat tiruan.”

“Justru karena kamu pemalsu yang ahli, maka seharusnya kamu sangat memahami kesejatian.”

Tewut terdiam lagi.

“Satu-satunya kesejatian yang kupahami adalah… sampeyan bapakku.”

Sekarang Pras tak bisa berkata-kata. “… Hah… eh… aku belum punya istri… .”

“Sampeyan betul bapakku. Kami gendruwo dilahirkan dari pria-pria masturbasi.” Ia mengusap air matanya.

Pras tidak berkata apa-apa.

“Kami adalah anak-anak yang tidak diinginkan. Tidak dipedulikan. Tidak dipikirkan. Sampeyan tahu bagaimana rasanya tumbuh sendirian? Tak punya ibu, dan bapaknya ndak peduli? Bahkan tahu punya anak pun ndak? Dengan bentuk seperti yang sampeyan lihat ini?“ Sambil berkata demikian, wujud Tewut perlahan-lahan berubah. Pakaiannya yang rapi menghilang. Otot-otot tangan dan kakinya membesar. Kulitnya menjadi gelap… gelap sekali. Wajahnya kini tidak beraturan, dan seluruh permukaan tubuhnya ditutupi benjolan dan cairan, di antara bulu yang tidak terawat.

Pras sangat terkejut. Ia tidak kuat memandang tubuh Tewut. Bau busuk dari tubuh itu menusuk hidungnya dengan tajam. Ingin rasanya menangis.

“Semua mahluk membenci kami. Di alam kami, gendruwo selalu dicurigai. Aku ndak pernah menyalahkanmu karena melahirkanku, tapi tolong hargai aku, seperti sampeyan menghargai manusia lain.”

Pras belum bisa bicara. Sejak remaja, setiap waktu lenggangnya, ia memang jarang bisa menemukan hiburan lain… .

“Eeh… maafkan aku. Hmmm… berapa umurmu ?”

Tewut tersenyum sambil mengusap air matanya, “Sampeyan lupa aku ndak punya keterbatasan ruang dan waktu.”

“Heh… iya betul… Apa yang kau inginkan sekarang ?” Pras memegang bahu Tewut.

“Ndak banyak. Aku ingin bisa memanggilmu bapak. Aku ingin membahagiakanmu. Dan jangan mengajakku berdebat soal kesejatian, karena aku dilahirkan oleh kepalsuan.”
*
Malam yang dingin, hampir jam satu. Cahaya pucat neon menyapu kantor yang kosong menambah dingin udara dalam ruangan. Bunyi berdengung -entah dari mana- dan bunyi tuts yang ditekan menjadi satu dengan keheningan semesta. Sayup-sayup terdengar suara lalu lintas malam kota yang tak pernah tidur, nun jauh di bawah sana.

Pras memandang monitornya, sendirian. Angka-angka. Cewek-cewek telanjang. Ia matikan semuanya. Malam ini ia akan pulang. Benar-benar pulang.


Depok, Januari 00-

diubah ke setting New York di New York, Januari 06


Blog EntryPembantu dan tukang BecakJan 13, '06 12:45 AM
for everyone

            Sebagai penarik becak di Manhattan, Gagas cukup kenal liku-liku jalan di sana. Walau downtown dan midtown kelihatannya datar-datar saja, namun ia tahu semakin ke atas sebuah tempat di peta Manhattan, semakin menanjak ke atas jugalah jalan-jalannya. Maka, ketika seorang nyonya tua menawarkan lima puluh dolar untuk membawanya dari 33rd ke 87th street di Upper West Side, dia pikir-pikir dulu. Lebih dari lima puluh blok. Penamaan jalan di New York memang memudahkan orang membayangkan lokasi sebuah tempat. Semakin kecil nomor jalannya, semakin dekat ke downtown di selatan, dan sebaliknya.

Lima puluh dolar uang yang banyak, tapi perjalanannya juga jauh dan melelahkan. Tanjakan di uptown jelas semakin terjal. Tapi dia belum mendapatkan apa-apa sejak membawa keluar becaknya dari pangkalan. Ia tahu tak ada penarik becak kulit putih yang akan mengiyakan tawaran ini, namun ia melihatnya sebagai penglaris untuk memulai hari. Upper West Side adalah daerah tuan dan nyonya kaya, mungkin ia akan mendapat penumpang lagi di sana. Lagipula, kalau mereka ingin ke bawah, jalan-jalan akan menurun nantinya.

Hari yang dingin untuk musim semi, tapi tak cukup dingin untuk menahan keringatnya. Ia berhenti dan membuka jaket menjelang masuk Central Park. Jalan di dalam taman jelas lebih nyaman ketimbang harus berhenti di setiap persimpangan. Pedalnya memberat, walau dia sudah masuk ke tansmisi paling ringan, tanda bahwa tanjakan semakin menantang. Sesekali ia harus mengerem juga, karena banyak orang menyeberang. Sialan, hari ini banyak sekali orang jogging siang-siang. Mengapa ada banyak orang yang tidak perlu mencari uang?

Si Nyonya senang sekali dengan pilihan rute ini. Ia pun bercerita kenangan-kenangan. Cerita-cerita itu sederhana saja, kencan pertama dengan pacar di skating rink, perpisahan dekat the plaza waktu sang pacar berangkat perang. Naik becak, perjalanan adalah tujuan, dan pemandangan memanjakan angan-angan. Gagas lalu membayangkan cerita-cerita si Nyonya dalam gambar hitam putih, seperti foto dan film tua. Jangan-jangan cherry blossom indah magenta ini pun dulunya hitam putih belaka?

Mereka keluar taman, dan lalu lintas di atas sini memang tak seramai daerah sibuk di bawah sana. Betul dugaan Gagas, Sang Nyonya turun di depan sebuah gedung apartemen mewah. Dia memberikan tip sepuluh dolar, menjadi awal yang bagus untuk hari ini. Setoran becak tiga puluh dolar di musim semi, dan jumlah yang sama sudah ia kantongi sendiri. Kalau benar ia bisa mendapat penumpang turun ke midtown, maka hampirlah tercapai setengah targetnya untuk sepanjang hari. Mungkin ia bisa mentraktir Carol nonton film malam nanti? Tapi apa bisa mendapatkan penumpang di daerah ini?

Aku harus menjauhi jalan besar, ke tempat orang-orang tak mudah bertemu taksi. Tapi kenapa sepi sekali di sini? Ah, itu ada perempuan dengan tas belanja. Wait a minute, she wears… kebaya…!!!

*

            Carol telah mengembalikan becaknya ke pangkalan dan membayar uang setoran. Kini ia menanti dan menanti. Dicobanya menelepon Gagas, tapi ponselnya mati. Jarang-jarang Gagas membuatnya cemas begini. Dia penarik becak ulung, seringkali perolehannya di atas tukang becak lain. Aneh, padahal dia jarang mangkal di pusat-pusat wisata. Turis-turis jelas bukan buruan utamanya. Padahal, turislah yang biasanya memberi tip paling banyak. Ditambah lagi, dengan penampilannya, Gagas akan lebih mudah dipercaya turis-turis luar negeri, apalagi dari Asia.

            Aneh, tak biasanya dia ingkar janji. Mana orang itu? Aku baru berniat mentraktirnya nonton film setelah makan malam. Kalau sudah terbiasa bersama, makan seorang diri sungguh tidak menyenangkan. Kuharap ia sudah makan dan kami masih bisa nonton pemutaran terakhir. Bagaimana ya ketika bertemu dengannya nanti? Sudah bolehkah aku merajuk, sedikit?

Darn. Move orang ini lambat sekali. Memang aku yang harus menyesuaikan diri. Enam bulan selalu bersama, dan belum pernah ia menyentuhku. Well, tapi dia selalu manis, siap membantu, dan kupikir, reaksi kimia antara kami tidak terbantahkan. Kami menikmati saat-saat bersama, dan seharusnya sekarang sudah tiba waktunya kami bercinta. Sialan. Aku akan berhenti menjadi perempuan baik-baik saat bertemu dengannya nanti.

*

            Namanya Asih. Lengkapnya Rumiasih. Dua puluh tiga tahun. Bekerja sebagai pembantu rumah tangga di keluarga diplomat Indonesia. Asih Asih Asih. Hihihi… namanya, apa ya artinya? 

            “Saya ndak tahu, ndak ada artinya…”

            “Oooh….”

            Pemalu. Atau misterius?

            “Sudah pernah jalan-jalan ke Times Square? Kita belanja sayuran di sana saja mau…? Dekat sana ada toko besar buat belanja juga.”

            “Ndak. Saya ditunggu. Lagipula, nyonyah saya pakai kartu diskon toko sayuran di seratus sepuluh street itu.”

            “Pulangnya naik apa? Sama saya lagi ya? Saya tunggu, masih gratis.”

            “Jangan aah… pokoknya nanti saya bayar.”

            “Lho, tadi katanya pakai kartu subway dari nyonyah?”

            “Iya, becaknya saya bayar pakai uang saya sendiri.”

            “Waduh, nggak perlu…”

            “Nggak pa pa…”

            Gengsian. Oke.

            “Iya, yang ini tokonya. Stop di sini.” Asih turun dari becak. “Ini uangnya.” Ia mengulurkan uang tiga dolar.

            Gagas tersenyum. Tiga dolar untuk dua puluh blok lebih. Ia mengurungkan niatnya untuk menolak uang itu. “Terima kasih, mbak. Saya tunggu di sini ya?”

            “Tapi saya mungkin lama lho…?”

            “Nggak apa-apa.”

            Asih tersenyum. “Mas namanya siapa?”

            Mereka berkenalan. Gagas menunggu Asih hampir satu jam, lalu ia pun mengantarkan Asih pulang. Asih kelihatan senang, ia tidak perlu menjinjing tas belanjaan naik turun tangga kereta subway. Sampai di rumahnya, ia membayar lagi tiga dolar.

            “Sini saya bantu”

            Ndak usah, saya bisa sendiri kok, kan tinggal naik lift.”

            “Saya bantu bawa sampai lift?”

            Ndak perlu, itu doorman saya datang, biasanya dia yang bantu.”

            “Apa kamu sibuk setelah ini?”

            Asih kelihatan kaget.

            “Hmmm.. eh.. saya… harus mulai masak.”

            “Yaah, sayang sekali. Ini malam sabtu, dan malam ini akan hangat lhoo… . Kalau begitu, mungkin kapan-kapan kita bisa ketemu lagi.”

            Doorman apartemen menyapa Asih dan mengambil keranjang belanjaan. Ia menunggu.

            “Hmmm.. saya bawa belanjaannya ke atas, nanti saya turun lagi. Tapi kita harus kembali ke sini jam lima ya?”

            I promise.”

            Malam itu Gagas tidak bertemu Carol.

*

Sejak betemu Asih, Gagas hampir tidak pernah lagi bekerja. Setiap hari ia plesiran bersama Asih. Seperti hari ini. Asih memakai kaca mata hitam dan Gagas membawa belanjaan. Asih kelihatan senang sekali.

            Seneng ya kamu?”

“Iya… habis rame…”

            “Kok seneng cari yang rame…?”

            “Belum pernah. Saya sudah dua tahun di sini, tapi belum sempat ke mana-mana. Gak ada yang nemenin

            Mereka menyusuri East Village, Soho dan Chinatown. Di Chinatown Asih masuk ke salon kecantikan. Gagas menunggu di luar sambil merokok dan melihat-lihat. Asih keluar dari salon, dan jantung Gagas hampir berhenti melihatnya. Rambut Asih kini berwarna coklat kemerahan.

            “Kenapa rambutmu di-cet…?

            Kan bagus begini… . Eh, bagus kaaan?”

            “Eh, Bagus bagus… hehehe… bagus kok.”

Makasih, sekarang kita makan yuuk, aku traktir. Habis itu temenin aku belanja ya? Aku mau beli oleh-oleh buat temen-temen di kampung.”

“Memang kapan mau pulang?”

“Kontrakku masih enam bulan lagi. Mas Gagas kapan pulang?”

“Ehm… aku gak tau…”

Keduanya diam sebentar. Gagas lalu tersenyum.

“Yuuk, katanya mau cari oleh-oleh. Di sebelah sana tuh tempatnya.”

*

            Carol mengernyitkan dahi.

            Mana mungkin Gagas jatuh cinta padanya? Dia baru saja kenal. Apa yang ia ketahui mengenai perempuan sundal itu? Love at first sight? No way. There’s no such thing.

            Sudah jelas, Gagas rindu kampung halamannya. Dia memang sudah lama tidak pulang ke Indonesia. Ayahnya, dulu seorang tukang becak, telah lama meninggal dunia. Ibu Gagas yang bekerja keras membiayai sekolah anaknya. Gagas lulus sekolah tinggi pelayaran. Sepuluh tahun yang lalu, ketika sampai di sini, ia tidak pernah kembali ke kapalnya yang bersandar di pelabuhan. Nekat, nekat. Modalnya hanya selembar foto kopi paspor, karena paspor aslinya ditahan sebagai jaminan oleh nahkoda. Nekat. Sejak itu dia bekerja di restoran atau di konstruksi bangunan. Sampai akhirnya ia melihat pangkalan becak di Manhattan.

Carol menggeleng-gelengkan kepalanya.

Betapa tidak rasionalnya dia. Bersamaku dia lebih memiliki masa depan. Menikah denganku berarti memutihkan statusnya di negara ini. Tapi masalah ini bukan soal status. Kupikir ia sudah bisa melupakan asal-usulnya. Ini salahku. Seharusnya kularang ia makan di restoran Indonesia setiap minggu. Atau seharusnya kubuang potret ibunya sedari dulu. Tapi manalah mungkin aku tega berbuat itu?

Ini pilihannya. Dia harus memilih, perempuan itu atau aku? Huh, laki-laki memang selalu emosional dan terburu-buru. Ketika waktu berlalu, dia akan tahu ini cinta monyet yang semu. I mean, for God’s sake, betapa cocoknya kami, begitu saling melengkapi. Seharusnya sedari awal aku lebih cepat menerkamnya.

Hampir setiap hari ia pelesir bersama perempuan terkutuk itu. Ini sudah minggu kedua. Carol menggeleng-gelengkan kepalanya.

*

            “Nunez, Asih sudah turun?”

            Nunez, si Doorman apartemen Asih kelihatan lega melihat Gagas. Ia berlari menghampiri, dan dengan tergesa-gesa mencoba bicara, sulit sekali, mengingat bahasa Inggrisnya yang pas-pasan.

            “Mister Gagas, Asih pergi. Seluruh keluarga pergi. Mister diplomat dipindah ke Geneve… mendadak…! Mereka semua pergi. Baru saja…! Berangkat ke bandara…!”

            Muka Gagas berubah pucat. Ia belum pernah ke bandara dan naik pesawat. Ia mengambil ponselnya.

            “Carol, eh, hari ini kamu belum narik kan? Temani aku ke bandara. Asih pergi, aku harus menyusulnya. Apa? …  Aku belum pernah ke bandara. Kamu harus pergi dengan saya. … Please, kamu harus menolong temanmu. … Carol, ini soal hidup dan mati. … Apa? … Ehm, Nunez, bandara mana? … Newark…! Kita bertemu di mana? Ya… ya… tempat itu aku tahu. … Baik, kita bertemu di sana.”

*

            Dalam kereta api dari bandara. Carol tidak tahu apa dia harus senang atau kasihan pada Gagas. Wajahnya pucat pasi. Tatapannya lurus ke depan, seolah-oleh ada pemandangan indah di terowongan gelap di luar jendela kereta subway.

            “Gagas, cut it off. Memangnya gampang cari pesawat terbang di bandara? Kamu seharusnya bertanya nama maskapainya, jadi kita tidak perlu berputar-putar di setiap terminal…”

            Gagas tidak bisa berkata-kata.

            Come on, Gas. Dia tidak berharga. Apa yang kamu tahu tentang dia? Dari ceritamu, kamu tertarik pada dia hanya gara-gara dia pakai baju yang sama dengan yang ada di foto ibumu.”

            “Saya naksir berat…”

            “Naksir berat? Kamu ter-obses sama dia…”

            “Cinta itu obsesi.”

            “Obsesi itu untuk remaja, Gagas. Cinta itu rasional. Seperti yang kita punya.”

            Gagas kelihatan agak kaget pada keterus-terangan Carol. Ia menolehkan wajahnya sedikit, walau matanya tetap memandang ke luar jendela.

            “Apa yang kita punya?”

            “Hey, kalau kamu tidak bertemu perempuan sundal itu kita sudah bersama sekarang.”

            “Jangan memanggil dia sundal”

            “Ya, maaf. Tapi jangan bilang kamu nggak merasakan apa yang saya rasakan, jangan bilang kamu tidak menikmati semua percakapan kita. Percakapan yang membuat kita selalu pulang larut malam dan terlambat berangkat menarik becak. Kita punya banyak waktu susah dan senang bersama. Tujuan hidup kita sama, dan aku bisa gila kalau gak dengar suara ketawamu.”

            Gagas masih tertegun, tapi air mukanya berubah.

            “Kamu cuma kangen ibu kamu. Kamu pasti kepingin bisa pulang.”

            Gagas tidak berkata apa-apa. Dia terdiam lama, bahkan ketika mereka sudah berganti kereta. Carol pun memilih menahan diri. Mereka asik dengan pikiran masing-masing. Barisan orang pulang kerja menyerbu gerbong mereka.

            “Hati-hati dompetmu.”

            Carol memegang dompet di tas punggungnya. Dia menoleh, Gagas sedang menatapnya.

            “Hati-hati bibirmu.”

            Gagas memegang pipi Carol, lalu mencium bibirnya. Carol kaget, tapi dia membalas ciuman itu.

            “Gas, maaf ya aku bilang kamu kangen pingin pulang. Kapan-kapan aku ikut kamu liburan ke sana. Sekarang, yuk kita makan malam di… apa nama restoran kecil itu? Warteg?”

            Gagas tersenyum dan mengangguk, mereka berciuman lagi.

*

            Kereta berhenti, rel kereta api dan stasiun yang mereka lalui kini melayang di atas jalan. Gagas dan Carol berjalan turun tangga sambil berpegangan tangan. Di anak tangga terakhir, tepat di depan warteg, Gagas memperlambat jalannya.

Di pintu masuk warteg, Asih sedang duduk sambil memegang kopernya. Asih melihat Gagas, lalu melompat dan memeluknya.

“Aku kabur Mas, aku gak mau ikut ke Jenewa. Aku mau di sini sama Mas Gagas.”

Semua terpaku. Bahkan pegangan tangan Gagas dan Carol belum terlepas.

 

Queens, NYC, 12 Januari 2006

 birthday present for Dhyta



Blog EntryLing KelintingJan 9, '06 3:20 AM
for everyone

Ling Kelinting tampak kesal. Sepagian ini ia cemberut. Keningnya berkerut.

 

Kenapa ia tidak mencintaiku? Kenapa ia tidak memilihku, dan malah perempuan itu? Bisakah ia menari di udara sepertiku? Bisakah ia melepaskannya dari kesulitan? Heeei, siapa yang membantu dia dan adik-adiknya terbang dari kamarnya di London hingga ke tempat ini?

 

Ia terbang, sayapnya yang kecil bercahaya sedikit lebih terang dari cahaya tubuhnya. Ia terbang dan terbang, secepat-cepatnya, hingga udara pagi dan titik-titik embun yang dingin menyegarkan tubuhnya. Titik-titik embun itu tentu kecil saja bagi manusia biasa, namun bagi Ling, setitik embun cukup untuk menghambat laju terbangnya. Ia tersenyum lagi memikirkan Peter Pan, kesayangannya.

 

Apa aku tidak punya perasaan, sehingga aku tidak mempedulikan perasaannya? Tentu saja aku punya perasaan, aku mencintainya sangat. Maksudku, betapa egoisnya perasaanku, sehingga menyalahkannya karena memilih Wendy.

 

Ia kini memilih berhenti di atas sebuah ranting pohon yang masih hijau. Ranting itu baru, daun-daun yang tumbuh si atasnya belum lagi berbentuk. Ia mencium bau yang segar. Tentu itu wangi daun yang baru tumbuh itu. Tatapannya kosong sekarang.

 

Wendy Wendy Wendy. Seorang manusia biasa. Ada apa dengannya sehingga ia memilih manusia biasa? Yah, tentu saja, Peter Pan pun sebetulnya manusia biasa. Ia hanya memilih untuk hidup di sini, bukan di dunia normal tepat Wendy berasal, dan menolak untuk tumbuh. Tidak bisakah ia melihat itu? Ia menolak untuk tumbuh menjadi dewasa. Dalam waktu singkat, Wendy akan menjadi tua. Mereka tak akan bisa bersama.

 

Ia menatap ke bawah, ke semak-semak dan bunga liar yang tumbuh di antara mereka. Matahari belum juga muncul dari Timur. Ia tak tahu harus berbuat apa, lalu hanya menutup matanya.

 

Oooh begitu lagi. Siapa aku hingga menghakimi mereka? Aku kan bukan pacar Peter Pan. Aku tak berhak mengatur hidupnya.

 

Sambil berpikir begitu, ia menggeleng. Ia menggeleng sambil terbang. Ia menggeleng begitu kuat sehingga serbuk-serbuk cahaya bertaburan. Beberapa ulat yang sedang asik makan daun terkena taburan serbuk-serbuk itu, dan mulai ikut berterbangan. Mereka tampak mulai kebingungan. Ling Kelinting melihat hal ini, lalu mengembalikan mereka ke tempat semula dengan tongkat ajaibnya.

 

Lagi pula, walau kami dekat, dan ia sering mengatakan betapa pentingnya aku baginya, aku tidak yakin dia mencintaiku seperti aku mencintainya. Hei, beberapa kali aku menciumnya, dan ia menciumku. Apa itu semua ada artinya? Apa ia mencintaiku? Tidak. Ya. Tidak. Ya. Tidak ya tidak  ya ya ya ya tidak. Aduuuh, betapa tersiksanya.

 

Ia meninggalkan pohon itu, lalu terbang di permukaan sebuah telaga. Kadang-kadang, beberapa katak yang masih terjaga hingga saat seperti ini mencoba menjilat karena menyangkanya seekor lalat. Atau melihat cahayanya yang terang, mungkin seekor kunang-kunang. Tapi pagi ini semua katak telah hilang. Mungkin mereka terlalu lelah bernyanyi sepanjang malam. Mungkin juga mereka sengaja membiarkan. Jelas, hari ini dia tampak muram.

 

Hai, apa yang aku lakukan ini? Apa aku mulai menyalahkannya? Apa ia pernah mengatakan cinta? Tidak. Pernahkah ia memberi tanda-tanda suka? Tidak juga. Pernah memberi iming-iming, janji atau perhatian lebih kepadaku? Tidak tentu saja. Jadilah, aku harus berhenti menimpakan kesalahan kepadanya.

 

Lalu kepada siapa? Wendy? Tak membuatnya adil juga. Aku tak pernah tau persis bagaimana perasaannya. Sering terlihat Wendy tidak menyukai gaya Peter yang arogan dan urakan. Menolak untuk terus tumbuh dewasa? Tidak terdengar benar-benar merupakan tipe pilihannya. Ya, mereka bukan pasangan yang ideal, tapi kata siapa cinta harus muncul karena banyaknya hal yang sama?

 

Kini ia mendarat di daun teratai. Beberapa ekor ikan berenang mendekatinya dan mengucapkan selamat pagi. Ia membalas ucapan itu.

 

Tentu saja untuk orang seperti Peter, Wendy sangat menarik. Ia keibuan, dan Peter tak pernah merasakan belai kasih sayang orang tua. Ia telaten, santun, namun jujur menyatakan pikiran dan perasaannya. Beberapa kali aku melihat gairah dalam mata Peter ketika memandangnya.

 

Ling menarik napas panjang. Ia membaringkan tubuhnya yang letih karena semua penerbangannya yang panjang hanya di pagi ini. Ia memejamkan mata, mencoba menikmati tidur sejenak di daun teratai yang dingin ini. Tidak, ia terlalu gelisah. Ia membalikkan tubuhnya, tengkurap, lalu memandang bayangan wajahnya di permukaan air dari sisi daun.

 

Lihatlah aku. Apa yang begitu menarik dari diriku bagi seorang Peter Pan? Dibandingkan tubuhku, ia raksasa. Tentu baginya aku hanyalah peri kecil yang kebetulan sering menolongnya. Tidak, lebih buruk. Aku hanya cahaya kecil yang berpendar berterbangan di sekitarnya.

 

Ia tidak tahan dengan segala pikiran itu. Ia merasa lumpuh, tidak bisa berbuat apa-apa. Ia mencoba membuktikan dirinya tidak lumpuh. Ia berdiri, lalu terbang kembali. Ia menggeliat. Tubuhnya segar sekali.

 

Hei, ya ampun. Masalah komunikasi. Apakah ia benar-benar mengerti arti semua kelintinganku? Aku tak bisa bicara, dan walaupun kebetulan ia tak pernah salah mengerti aku di saat-saat menghadapi kapten Hook, aku tidak yakin ia memahami bahasaku sepenuhnya. Tak tahulah, kami tidak pernah betul-betul duduk berdua dan membicarakan ini semua.

 

Ia berhenti di sebuah taman bunga. Bukan taman sebenarnya, karena tidak ada yang merawat tumbuhan di sana. Secara alami, tempat ini begitu indah, bunga-bunga bermekaran, kupu-kupu berterbangan, dan semuanya mengucapkan selamat pagi. Ling mencoba membalas semua sapaan. Ia kenal hampir semuanya, walau usia kupu-kupu begitu singkat. Setiap hari ia memang menyempatkan diri datang ke sini, terutama saat ini, saat ia merasa butuh mencurahkan isi hati. Tapi tentu, bunga-bunga dan kupu-kupu ini tak akan mengerti.

 

Oooh, Peter. Kau begitu hidup. Menyenangkan. Jagoan. Tak mau kalah, arogan urakan dan gengsian, hi hi.. bukankah itu semua yang kuinginkan? Hmmmhh.. angan-angan. Membayangkan aku bersamanya hanya merupakan mimpi yang tak akan pernah menjadi kenyataan. Mimpi yang akan kubawa kemanapun ku pergi. Sambil selalu berharap kau mendapatkan kebahagiaan sejati.

 

Ling Kelinting menarik napas panjang. Ia mencoba tersenyum walau air matanya jatuh ke rumput, menyatu dengan embun-embun yang masih dingin di pagi itu. Bagaimana pun, tetes air matanya mudah dibedakan karena masih memendarkan cahaya.

 

Yang kumau hanya roman dengan orang tertentu, yang kucintai sepenuh hatiku. Terlalu banyakkah itu?

 

Matahari telah terbit sekarang. Cahayanya sedikit menghangatkan tubuhnya. Tetes air matanya jatuh kembali, kali ini mendarat di kelopak bunga dan memercik menjadi tetesan-tetesan lebih kecil, memendarkan cahaya yang lebih banyak, bagai percik-percik kembang api.

 

Ia menarik napas panjang lagi. Dalam hatinya ia merasakan kebahagiaan tak terkira.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help